Sumbarkita – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Sumatera Barat menilai krisis kabut asap yang melanda wilayah Sumatera Barat hingga Oktober 2026 berkaitan dengan lemahnya pengawasan lingkungan, pengelolaan hutan, dan penegakan hukum terhadap perusahaan yang diduga berkontribusi terhadap kebakaran hutan dan lahan.
Direktur Eksekutif Daerah WALHI Sumatera Barat, Tommy Adam, mengatakan kabut asap yang berulang setiap tahun tidak bisa hanya dikaitkan dengan fenomena alam seperti El Nino. Menurutnya, persoalan tersebut juga perlu dilihat dari aspek tata kelola lingkungan dan perlindungan ekosistem gambut.
“Krisis kabut asap dan melonjaknya kasus ISPA di Sumatera Barat bukanlah dampak fenomena alam biasa seperti El Nino, melainkan akumulasi dari kejahatan negara dan korporasi akibat kelalaian menjaga ekosistem gambut,” kata Tommy pada Jumat (9/10/2026).
Tommy mengatakan, berdasarkan pemantauan kualitas udara di Kota Padang pada 27 Agustus hingga 9 Oktober 2026, tidak ada satu hari pun kualitas udara yang masuk kategori baik. Kondisi udara selama periode tersebut didominasi kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat, bahkan beberapa kali mencapai tingkat berbahaya.
“Selama masa pemantauan tersebut, tidak ada satu hari pun kualitas udara di Kota Padang berstatus baik karena didominasi kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat, bahkan berulang kali melonjak ke level berbahaya,” ujar Tommy.
Ia menjelaskan, salah satu polutan yang menjadi perhatian adalah partikulat halus PM2.5, yakni partikel berukuran 2,5 mikrometer atau lebih kecil yang dapat masuk jauh ke dalam paru-paru. Paparan partikel tersebut berisiko mengganggu kesehatan, terutama ketika konsentrasinya tinggi dan berlangsung dalam waktu lama.
Menurut Tommy, kondisi kualitas udara tersebut perlu menjadi perhatian karena terjadi bersamaan dengan tingginya jumlah kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Sumatera Barat.
Berdasarkan rekapitulasi Dinas Kesehatan Sumatera Barat yang disampaikan Tommy, terdapat 55.058 kasus ISPA sepanjang 1–24 September 2026. Kota Padang menjadi daerah dengan jumlah kasus tertinggi, yakni sebanyak 7.836 kasus.











