Penulis: Dr. Hendrizal, S.IP., M.Pd.
Sumbarkita – Dentuman di MAN 3 Padang pada Selasa, 14 Juli 2026, seharusnya tidak hanya mengguncang tembok sekolah. Dentuman itu mestinya juga mengguncang cara kita memahami kekerasan di lingkungan pendidikan. Sebab, bom yang meledak di sekolah bukan sekadar persoalan kriminal, melainkan alarm keras bahwa ada luka sosial yang selama ini dibiarkan membusuk.
Beruntung tidak ada korban jiwa. Namun, jangan sampai ketiadaan korban membuat kita merasa persoalan telah selesai. Justru sebaliknya, bangsa ini sedang dihadapkan pada sebuah pertanyaan yang jauh lebih besar: bagaimana mungkin sebuah ruang yang seharusnya menjadi tempat anak belajar justru berubah menjadi ruang yang melahirkan dendam sedemikian dalam?
Polisi memang masih mendalami motif secara menyeluruh. Keterangan awal menyebut pelaku berinisial RGJ (17) mengaku mengalami tekanan psikologis akibat sering menjadi korban bullying oleh teman sekelasnya. Polda Sumatera Barat menegaskan bahwa informasi tersebut masih merupakan hasil pemeriksaan awal sehingga belum dapat dijadikan kesimpulan akhir. Namun, dugaan itu sudah cukup menjadi peringatan bahwa perundungan tidak boleh lagi dianggap sebagai kenakalan remaja biasa.
Selama bertahun-tahun, bullying sering diperlakukan seperti angin lalu. Korban diminta bersabar. Guru menyebutnya “bercanda”. Orang tua menyarankan agar anak lebih kuat. Teman-teman memilih diam karena takut ikut menjadi sasaran. Akibatnya, pelaku merasa kebal, sedangkan korban memendam luka sendirian.
Ironisnya, luka psikologis memiliki cara yang berbeda dalam mencari jalan keluar. Sebagian anak memilih menangis. Sebagian menarik diri dari lingkungan sosial. Sebagian mengalami depresi. Dalam kasus yang lebih ekstrem, ada yang kehilangan harapan hidup. Dan dalam kondisi tertentu, kemarahan yang dipendam bertahun-tahun dapat berubah menjadi tindakan destruktif.
Kasus di MAN 3 Padang memperlihatkan kemungkinan itu. Berdasarkan pemeriksaan awal, pelaku bahkan disebut belajar merakit bahan peledak secara mandiri melalui internet selama beberapa bulan menggunakan bahan-bahan yang relatif mudah diperoleh. Polisi juga menduga sasaran aksinya mengarah kepada teman sekelas yang dianggap sering melakukan perundungan, meskipun seluruh keterangan tersebut masih terus diverifikasi.
Di sinilah letak persoalan yang sesungguhnya. Internet memang menyediakan pengetahuan tanpa batas. Namun, ketika seorang remaja yang sedang terluka secara psikologis menemukan informasi tentang cara membuat bom lebih mudah daripada menemukan bantuan psikologis, berarti ada yang salah dalam ekosistem pendidikan kita.
Unesco dalam berbagai kajian tentang kekerasan di sekolah berulang kali menunjukkan bahwa bullying bukan hanya berdampak terhadap prestasi akademik, tetapi juga meningkatkan risiko gangguan kesehatan mental, kecemasan, depresi, hingga perilaku agresif pada korban. Persoalan ini tidak mengenal batas negara maupun status sekolah. Ia hadir di sekolah negeri, madrasah, sekolah swasta, bahkan sekolah unggulan.












