Sumbarkita — Kerugian akibat banjir bandang dan longsor di Kabupaten Padang Pariaman sejak akhir November 2025 mencapai Rp1.331.465.210.883, dan 4.842 unit rumah rusak. Hal itu merupakan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Padang Pariaman per 16 Desember 2025.
Kepala Pelaksana BPBD Padang Pariaman, Emri Nurman, mengatakan angka tersebut merupakan hasil rekapitulasi sementara yang dihimpun dari seluruh kecamatan terdampak. Ia menegaskan bahwa nilai kerugian itu masih berpotensi bertambah seiring berlanjutnya proses pendataan di lapangan.
“Ini masih data sementara. Pendataan belum sepenuhnya selesai, terutama di nagari dan korong yang sempat terisolasi. Angka kerugian masih bisa berubah,” katanya, Rabu (17/12).
Emri menjelaskan, dari total kerugian tersebut, kerusakan infrastruktur mendominasi dengan nilai sekitar Rp926,7 miliar. Kerusakan itu meliputi jembatan, ruas jalan, irigasi, bendungan, serta fasilitas umum lainnya yang terdampak banjir dan longsor. Sementara itu, kerugian non-infrastruktur mencapai sekitar Rp404,7 miliar, yang mencakup sektor perumahan, pertanian, peternakan, serta aset ekonomi masyarakat. Emri menyebut sektor pertanian menjadi salah satu yang paling terdampak.
Ia mengatakan, banjir bandang dan longsor berdampak pada 17 kecamatan dan 98 nagari di Kabupaten Padang Pariaman dengan total 34.182 jiwa terdampak, 4.847 jiwa mengungsi, serta 4.842 unit rumah rusak. Kemudian 44 unit jembatan rusak, 29 ruas jalan terdampak, serta 69 unit irigasi dan bendungan mengalami kerusakan. Selain itu, 1.263 hektare sawah terendam dan 14.080 ekor ternak dilaporkan mati atau hanyut.
“Data ini kami himpun dari laporan kecamatan dan nagari, lalu diverifikasi di lapangan oleh tim BPBD bersama unsur terkait,” ujar Emri.
Selain kerugian materiil, bencana ini juga menimbulkan korban jiwa. BPBD mencatat 8 orang meninggal dunia di wilayah Padang Pariaman akibat longsor dan hanyut, 1 orang dilaporkan hilang akibat jembatan runtuh, serta 11 orang mengalami luka-luka.
“Kami juga mencatat adanya 39 korban hanyutan dari daerah lain yang ditemukan di aliran Sungai Batang Anai, Padang Pariaman,” ujarnya.












