Sumbarkita – Laju pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat pada triwulan II 2026 tercatat masih berada di kelompok terbawah di Pulau Sumatera. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Sumbar tumbuh 4,54 persen secara tahunan (year-on-year/y-on-y), menempatkan provinsi ini di peringkat kedelapan dari 10 provinsi atau menjadi pertumbuhan ekonomi terendah ketiga di Pulau Sumatera.
Meski demikian, perekonomian Sumatera Barat tetap menunjukkan tren positif. Nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku pada triwulan II 2026 mencapai Rp95,50 triliun, sedangkan PDRB atas dasar harga konstan tercatat sebesar Rp54,06 triliun.
Kepala BPS Sumatera Barat, Nurul Hasanudin, mengatakan pertumbuhan ekonomi daerah masih berlanjut dibandingkan periode sebelumnya. Secara triwulanan (quarter-to-quarter), ekonomi Sumatera Barat tumbuh 1,08 persen, sedangkan secara kumulatif selama semester I 2026 terhadap periode yang sama tahun lalu tumbuh 4,77 persen.
Pariwisata Melonjak, Pertanian Tetap Jadi Penopang
Di tengah pertumbuhan ekonomi yang masih positif, sektor penyediaan akomodasi dan makan minum menjadi lapangan usaha dengan pertumbuhan tertinggi, yakni mencapai 17,57 persen secara tahunan. Capaian tersebut mencerminkan aktivitas pariwisata dan usaha pendukungnya yang terus bergeliat.
Pertumbuhan tinggi juga terjadi pada sektor administrasi pemerintahan, pertahanan, dan jaminan sosial wajib sebesar 8,95 persen, disusul pengadaan listrik dan gas yang tumbuh 8,69 persen.
Sementara itu, sektor-sektor utama yang selama ini menjadi tulang punggung perekonomian Sumatera Barat juga tetap mencatatkan pertumbuhan. Pertanian, kehutanan, dan perikanan tumbuh 5,38 persen, konstruksi meningkat 5,98 persen, sedangkan perdagangan besar dan eceran tumbuh 4,94 persen.
Pertanian Masih Mendominasi Ekonomi
BPS mencatat struktur ekonomi Sumatera Barat masih didominasi oleh lima lapangan usaha utama yang secara keseluruhan menyumbang 66,53 persen terhadap total PDRB.
Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan tetap menjadi kontributor terbesar dengan porsi 21,98 persen, diikuti sektor perdagangan besar dan eceran sebesar 16,50 persen.
Dari sisi pengeluaran, ekspor barang dan jasa menjadi komponen yang tumbuh paling tinggi, yakni 36,73 persen secara tahunan. Selain itu, pengeluaran konsumsi pemerintah meningkat 9,84 persen, sedangkan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi tumbuh 7,03 persen.
Menurut Hasanudin, konsumsi rumah tangga masih menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat dengan kontribusi mencapai 50,79 persen terhadap PDRB. Sementara investasi memberikan kontribusi sebesar 29,17 persen.
Transportasi Masih Mengalami Kontraksi
Di balik pertumbuhan sejumlah sektor, BPS masih mencatat adanya pelemahan pada beberapa lapangan usaha. Sektor transportasi dan pergudangan mengalami kontraksi 0,45 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Secara triwulanan, pelemahan juga terjadi pada sektor industri pengolahan serta jasa keuangan. Namun secara keseluruhan, kondisi tersebut belum mengubah tren pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat yang masih bergerak positif.
Dalam lingkup regional, Sumatera Barat memberikan kontribusi 6,55 persen terhadap total PDRB Pulau Sumatera dan menempati peringkat keenam dari sisi besaran ekonomi di antara 10 provinsi di Pulau Sumatera. Sementara kontribusinya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional tercatat sebesar 1,47 persen.
Hasanudin mengatakan penguatan daya beli masyarakat serta tetap stabilnya aktivitas pariwisata menjadi faktor yang menopang pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat. Meski demikian, dinamika perdagangan antarwilayah dan perkembangan sejumlah sektor usaha masih menjadi tantangan yang akan memengaruhi kinerja ekonomi daerah ke depan.













