“Mereka sudah datang dua kali ke rumah kami untuk menyelesaikan masalah tersebut secara damai. Selain itu, rumah kami didatangi seorang perempuan yang tidak kami kenal untuk mengantarkan buah. Ada juga telepon dari perempuan yang tidak dikenal,” tutur ayah korban.
Korban dipindahkan ke sektor lain
Setelah dugaan pelecehan seksual tersebut terjadi, kata korban, suaminya, yang juga polisi, menemui atasannya untuk menyampaikan dan melaporkan kejadian yang dialami korban. Pemimpin tersebut kemudian memindahkan korban ke sektor lain.
Meski telah dipindahkan, korban mengaku masih mengalami trauma untuk bertemu dengan terduga pelaku yang merupakan atasannya sebab korban masih berada dalam lingkungan institusi yang sama.
Setelah dipindahkan, kata korban, ia dan atasannya itu tidak lagi bertemu dalam urusan kedinasan.
Korban hanya berharap mendapatkan keadilan dan pelaku mendapatkan balasan setimpal dengan perbuatannya.
Sebelumnya diberitakan bahwa pada dugaan pelecehan itu terjadi pada 15 Januari 2026. Korban mengungkapkan bahwa sebelum kejadian itu, ia bersama enam rekan perempuan di tempat kerjanya berencana untuk pergi berlibur. Dari tujuh orang tersebut, empat orang akan mendapatkan uang saku tambahan.
Pada 15 Januari 2026 itu salah seorang rekannya terlebih dahulu dipanggil ke ruangan atasannya. Tidak lama kemudian, korban dipanggil ke ruangan tersebut.
Saat itu dirinya sedang melakukan video call dengan suaminya. Sebelum masuk ke ruangan, suaminya meminta agar sambungan video call tersebut tidak dimatikan. Sesampainya di dalam ruangan, ia mengaku diperintahkan untuk duduk dan menutup mata.











