Sumbarkita — Pemerintah Kota (Pemko) Pariaman mulai menerapkan teknologi pertanian modern Advanced Agriculture System (PM-AAS) untuk meningkatkan produktivitas pertanian di daerah tersebut. Penerapan teknologi itu ditandai dengan kegiatan tanam perdana bersama Kelompok Tani (Poktan) Kito Samolah di Desa Sungai Pasak, Kecamatan Pariaman Timur, Kamis (30/7).
Kegiatan tersebut disaksikan langsung oleh Wali Kota Pariaman, Yota Balad. Ia mengatakan, penerapan PM-AAS menjadi langkah transformasi sektor pertanian menuju sistem yang lebih efisien, tangguh, dan berdaya saing.
“Hari ini adalah momen bersejarah bagi sektor pertanian di Kota Pariaman. Pelaksanaan tanam perdana berbasis teknologi modern ini merupakan bukti nyata komitmen kita bersama untuk mentransformasi sektor pertanian ke arah yang lebih efisien, tangguh, dan berdaya saing tinggi,” ujarnya.
Yota menjelaskan, PM-AAS merupakan sistem pertanian intensif berbasis teknologi yang mengutamakan efisiensi, mekanisasi, dan presisi. Metode tersebut mengadopsi praktik pertanian modern dari Arkansas, Amerika Serikat, dengan menerapkan sistem tanam benih langsung (tabela) melalui jarak tanam rapat untuk mengoptimalkan penggunaan lahan.
Menurutnya, teknologi tersebut dinilai sesuai diterapkan di Kota Pariaman karena keterbatasan lahan pertanian yang tidak memungkinkan dilakukan perluasan area tanam.
Ia berharap penerapan PM-AAS dapat meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani, menjadikan Desa Sungai Pasak sebagai percontohan penerapan teknologi tersebut, menarik minat generasi muda menjadi petani milenial, serta menjaga ketahanan pangan Kota Pariaman.
“Kepada seluruh anggota Poktan Kito Samolah, manfaatkanlah bantuan dan pendampingan teknologi ini dengan sebaik-baiknya. Jaga semangat gotong royong, teruslah belajar, dan rawat fasilitas serta teknologi yang ada agar memberikan manfaat yang berkelanjutan,” ujarnya.
Ia menyebutkan, teknologi tersebut memiliki sejumlah keunggulan, mulai dari maksimalisasi hasil panen yang ditargetkan mencapai 9 hingga 10 ton per hektare, efisiensi mekanisasi, pengawasan lahan secara real-time, hingga peningkatan keuntungan dan kesejahteraan petani di Kota Pariaman.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Kota Pariaman, Marlina Sepa, menjelaskan PM-AAS memiliki lima prinsip utama, yakni sistem tanam rapat dalam baris, efisiensi sumber daya berbasis teknologi digital, mekanisasi pertanian, intensifikasi produksi, serta penerapan spesifik lokasi.
“Berbeda dengan cara bercocok tanam konvensional, PM-AAS memadukan penggunaan bibit unggul, jarak tanam rapat, pengelolaan air yang presisi, serta dukungan penuh sarana alat pertanian modern. Untuk satu hektare lahan, komponen produksi yang disiapkan mencakup 70 kg benih, 300 kg pupuk urea, 400 kg NPK, pupuk organik padat dan cair, pembenah tanah, biodekomposer, dolomit cair, pupuk pelengkap cair, silika, ZPT, hingga obat-obatan pengendali hama,” ujarnya.
Untuk mendukung penerapan program tersebut, Pemko Pariaman menyiapkan sejumlah kebijakan strategis, di antaranya sosialisasi kepada camat hingga kepala desa terkait manfaat dan penerapan PM-AAS.
Selain itu, Pemko Pariaman juga melibatkan instansi terkait secara lintas sektor, seperti Dinas Perkim LH dalam pengolahan sampah organik untuk mendukung kebutuhan pupuk dan pembenah tanah.
“Semoga apa yang kita tanam hari ini tidak hanya tumbuh subur di tanah Sungai Pasak, tetapi juga membuahkan hasil melimpah yang mengangkat kesejahteraan para petani kita,” imbuhnya.














