Sumbarkita – Rahmi (20), mahasiswi asal Kabupaten Solok Selatan, terpaksa menghentikan kuliahnya setelah menempuh satu semester karena terkendala biaya pendidikan. Ia berharap dapat memperoleh bantuan agar bisa kembali melanjutkan kuliah.
Rahmi sebelumnya tercatat sebagai mahasiswa Program Studi Strata 1 Teknik Komputer di Politeknik Negeri Padang (PNP) Kampus Cabang Lubuak Malako, Kabupaten Solok Selatan.
Ia mengatakan bahwa perkuliahannya terhenti saat hendak memasuki masa ujian karena tidak mampu membayar biaya kuliah.
“Putus kuliah karena ga ada biaya kuliah,” kata Rahmi saat ditemui di depan Gedung Auditorium Universitas Negeri Padang (UNP) usai sambutan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dalam Musyawarah Wilayah VII Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Sumatera Barat, Sabtu (18/7/2026).
Rahmi menjelaskan bahwa biaya pendaftaran kuliah yang harus dibayarkan sebesar Rp3 juta, sedangkan biaya per semester mencapai Rp2 juta. Namun, ia mengaku baru mampu membayar biaya pendaftaran.
“Perkuliahan sudah satu semester berjalan, putus di tengah jalan pas mau ujian,” ujarnya.
Mengetahui Dedi Mulyadi atau yang akrab disapa KDM datang ke Padang, Rahmi bersama ibunya, Desmawarni (40), berangkat dari Solok Selatan menggunakan travel dengan waktu tempuh sekitar enam jam.
Rahmi mengaku mengetahui informasi kedatangan KDM dari dosennya, Putra. Ia datang dengan harapan dapat bertemu langsung dan meminta bantuan biaya kuliah.
“Saya mau minta bantuan biaya kuliah dengan KDM dikenal sering membantu masyarakat kurang mampu melalui media sosial maupun kunjungan langsung,” tuturnya.
Namun, harapan tersebut belum terwujud. Rahmi mengatakan hanya sempat berpapasan dengan KDM dan tidak memiliki kesempatan untuk menyampaikan langsung kondisi yang dialaminya.
“Rasanya sedih udah jauh-jauh datang kesini tapi tidak tersampaikan, menyampaikan sepatah katapun tidak bisa, karena KDM terlihat terburu-buru,” ujarnya.
Desmawarni mengatakan bahwa dirinya mendampingi Rahmi ke Padang sebagai bentuk ikhtiar agar anak sulungnya itu dapat kembali melanjutkan pendidikan.
Ia menjelaskan, Rahmi merupakan anak pertama dari empat bersaudara. Anak keduanya baru masuk SMA, anak ketiga masuk kelas VI SD, sedangkan anak bungsunya masih bersekolah di taman kanak-kanak.
“Karena banyak yang harus biayai sehingga banyak pengeluaran,” katanya.
Desmawarni mengatakan bahwa suaminya sehari-hari berjualan bumbu giling basah di sejumlah pasar di Solok Selatan. Ia juga ikut membantu suaminya berjualan.
Keluarga tersebut tinggal di sekitar Asrama Polisi Sungai Kunyit, Nagari Sungai Kunyit, Kecamatan Sangir Balai Janggo, Kabupaten Solok Selatan. Menurut Desmawarni, penghasilan dari berjualan di pasar tidak menentu sehingga menyulitkan keluarga memenuhi kebutuhan pendidikan keempat anaknya, termasuk Rahmi yang telah menjalani satu semester perkuliahan.
Ia juga mengatakan bahwa dosen Rahmi, Putra, turut berupaya membantu mencarikan jalan keluar agar anaknya dapat kembali melanjutkan kuliah.
“Itu makanya dosen Rahmi Pak Putra, coba berjuang katanya. Mana tahu ada jalan keluar biar Rahmi bisa lanjut kuliah,” ujarnya.
Selain itu, Desmawarni mengaku telah mendaftarkan keluarganya sebagai penerima Program Keluarga Harapan (PKH), tetapi hingga kini belum mendapatkan bantuan tersebut.
“Kami ga dapat Program PKH. Padahal udah dua tahun daftar,” katanya.
Ia mengatakan bahwa keluarganya tinggal di rumah kayu semi permanen yang dihuni enam orang.
“Cuma kami tinggal di rumah kayu semi permanen. Kecil, dengan enam orang anggota keluarga,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Desmawarni juga tidak sempat berbicara langsung dengan KDM. Ia hanya menitipkan data keluarganya kepada salah seorang staf.
“Tadi cuma sempat papasan, ga sempat ngadu atau bicara. Cuma saya titip ke stafnya data keluarga kami,” katanya.
Meski belum berhasil bertemu langsung dengan KDM, Desmawarni mengaku tetap berharap ada jalan agar Rahmi dapat kembali mengenyam pendidikan di bangku kuliah.
“Makanya saya mau berjuang agar anak tetap lanjut kuliah,” ujarnya.













