Sumbarkita – Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Indonesia Padang melalui Program Studi D-III Hiperkes dan Keselamatan Kerja melaksanakan program pengabdian masyarakat untuk memperkuat kesiapsiagaan warga pascabanjir bandang di Kelurahan Lambung Bukit, Kecamatan Pauh, Kota Padang.
Kegiatan yang berlangsung pada 4 Juni 2026 tersebut difokuskan pada peningkatan kapasitas masyarakat yang tinggal di wilayah hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) agar lebih siap menghadapi potensi bencana di masa mendatang.
Ketua Tim Pengabdian Masyarakat STIKES Indonesia Padang, Dr. Agus Teguh Prihartono, menjelaskan bahwa Kelurahan Lambung Bukit merupakan kawasan penting yang menjadi sumber penghidupan masyarakat melalui sektor pertanian dan perkebunan.
Ia mengungkapkan bahwa banjir bandang yang terjadi pada akhir 2025 menyebabkan kerusakan besar terhadap lahan produktif dan infrastruktur warga.
“Bencana banjir bandang pada akhir tahun 2025 lalu merusak sekitar 22,66 hektare lahan pertanian dan perkebunan warga, serta menghancurkan infrastruktur irigasi, jalan, jembatan, dan 121 unit rumah masyarakat,” ujar Agus saat memaparkan hasil kegiatan, Kamis (30/7/2026).
Program pengabdian masyarakat tersebut dipimpin langsung oleh Agus bersama tim akademisi yang terdiri atas Wenny Murdina Asih, M.T., Dr. Armein Lusi Zeswita, M.Si., Khaira Ilma, M.Kes., Yeni Herlina, M.Kes., Dr. Yunhendri Danhas, M.Si., Prof. Dr. Jasmi, M.Si., dan Merri Syafrina, M.Kes.
Menurut Agus, program dirancang melalui empat tahapan utama. Tahap pertama berupa pemetaan kebutuhan masyarakat melalui diskusi dengan tokoh masyarakat dan penentuan kelompok sasaran yang terdampak bencana.
Tahap berikutnya difokuskan pada pelibatan aktif warga dalam proses pemulihan lingkungan. Pendekatan tersebut dilakukan agar masyarakat tidak hanya menjadi penerima bantuan, tetapi juga berperan sebagai pelaku utama dalam upaya mitigasi dan pemulihan pascabencana.
“Kampus hadir tidak hanya sebagai penyumbang bantuan, melainkan sebagai mitra pemulihan berbasis sains yang memastikan masyarakat kembali bangkit dan memiliki daya tahan terhadap bencana,” katanya.
Selanjutnya, tim melakukan evaluasi untuk mengukur peningkatan pengetahuan dan keterampilan warga sebelum dan sesudah kegiatan. Pada tahap ini, sejumlah alat dan fasilitas pendukung juga diserahkan kepada masyarakat guna mendukung keberlanjutan program.
Kegiatan ditutup dengan penyusunan laporan sebagai bentuk pertanggungjawaban akademik dan administratif atas seluruh rangkaian program yang telah dilaksanakan.
Dalam pelaksanaannya, tim pengabdian menitikberatkan edukasi pada pembentukan sistem peringatan dini (early warning system) berbasis masyarakat. Selain itu, dilakukan pemetaan dan perancangan jalur evakuasi mandiri yang aman dan mudah diakses saat terjadi keadaan darurat.
Program ini menyasar seluruh lapisan masyarakat dengan prioritas pada kelompok rentan yang dinilai paling terdampak secara fisik, kesehatan, maupun psikologis setelah bencana.
“Pendekatan keilmuan dan kepakaran K3 ini kami arahkan khusus untuk melindungi kelompok rentan yang paling merasakan dampak fisik maupun psikologis pascabencana,” tutur Agus.
Ia menambahkan bahwa respons masyarakat terhadap kegiatan dan diskusi kelompok terarah (Focus Group Discussion/FGD) sangat positif. Tingginya partisipasi warga menunjukkan materi kesiapsiagaan yang diberikan dapat diterima dengan baik.
STIKES Indonesia Padang, lanjut Agus, berkomitmen menjadikan program tersebut sebagai bagian dari agenda pengabdian jangka panjang kampus sehingga pendampingan kepada masyarakat dapat dilakukan secara berkelanjutan.
“Harapan kami pengabdian ini memberikan dampak signifikan, sehingga masyarakat memiliki rencana kesiapsiagaan dan daya tahan (resilience) yang mandiri di masa depan,” pungkasnya.













