Sumbarkita — Dosen Fakultas Kehutanan Universitas Muhammadiyah (UM) Sumatera Barat, Noril Milantara, menerbitkan buku berjudul Ekowisata: Konsep, Supply, dan Demand yang membahas pemahaman menyeluruh mengenai konsep ekowisata.
Buku yang diterbitkan oleh ITERA Press pada Juni 2026 tersebut mengajak pembaca memahami kembali pemikiran para pelopor ekowisata, seperti Héctor Ceballos-Lascuráin, David Fennell, Martha Honey, David Weaver, serta sejumlah peneliti lainnya.
Milantara mengatakan, buku tersebut lahir dari kegelisahan akademik terhadap semakin luasnya penggunaan istilah ekowisata pada berbagai destinasi wisata di Indonesia.
“Buku ini berupaya mengajak pembaca memahami posisi dan karakter ekowisata secara lebih jelas, tanpa terjebak pada penyederhanaan bahwa seluruh wisata alam dapat secara otomatis disebut sebagai ekowisata,” ujarnya.
Ia menjelaskan, buku tersebut disusun berdasarkan empat pilar utama, yakni pengantar pariwisata, konsep ekowisata, aspek penawaran (supply), dan aspek permintaan (demand).
“Struktur tersebut memungkinkan pembaca memahami ekowisata sebagai sebuah sistem yang melibatkan interaksi antara sumber daya destinasi, pengelola, masyarakat, serta perilaku wisatawan,” katanya.
Menurutnya, buku tersebut tidak hanya membahas konsep dasar, konservasi, dan pengelolaan destinasi, tetapi juga mengulas hubungan antara sisi penawaran dan permintaan dalam ekowisata.
Pembaca diajak memahami berbagai komponen dalam ekowisata, mulai dari atraksi, aksesibilitas, jasa pariwisata, pemasaran, karakter wisatawan, motif wisata, hingga konsep sense of place yang masih relatif jarang dibahas secara mendalam dalam literatur ekowisata Indonesia.
Terbitnya buku tersebut mendapat sambutan dari berbagai kalangan, salah satunya Direktur Pemanfaatan Jasa Lingkungan Ditjen KSDAE Kementerian Kehutanan, Nunu Anugrah. Ia menyebut pengembangan ekowisata semakin relevan di tengah transformasi sektor kehutanan yang mengembangkan pemanfaatan jasa lingkungan sebagai bagian dari pembangunan berkelanjutan.
“Ekowisata memiliki karakter yang berbeda dari wisata alam konvensional karena tidak hanya berbasis sumber daya alam, tetapi juga berbasis nilai yang menempatkan konservasi, pendidikan lingkungan, moral, dan pemberdayaan masyarakat sebagai fondasi utama,” ujarnya.
Selain Nunu Anugrah, buku tersebut juga mendapat sambutan dari Kepala Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) Haidir, Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Provinsi Sumatera Barat Yozarwardi Usama Putra, Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Barat Ferdinal Asmin, akademisi Departemen Konservasi Sumber Daya Hutan dan Ekowisata IPB University Eva Rachmawati, serta akademisi Program Studi Arsitektur Lanskap Universitas Udayana Lury Sevita Yusiana.














