Direktur Eksekutif Daerah WALHI Sumatera Barat, Tommy Adam, menilai rentetan kejadian tersebut menunjukkan persoalan tambang emas ilegal di Solok Selatan belum tertangani secara tuntas. Ia menyoroti berulangnya insiden yang merenggut nyawa pekerja dan menilai pemerintah serta aparat penegak hukum perlu mengambil langkah lebih tegas untuk menghentikan aktivitas pertambangan tanpa izin.
“Tragedi ini bukanlah bencana alam murni, melainkan bencana buatan manusia (anthropogenic disaster) akibat pembiaran aktivitas tambang ilegal secara berlarut-larut,” ujar Tommy, Jumat (9/10/2026).
Menurut Tommy, persoalan tambang emas ilegal tidak hanya berkaitan dengan keselamatan pekerja, tetapi juga dugaan ketimpangan antara pekerja tambang lokal dan pemodal. Ia menyebut pekerja lokal berada di garis depan menghadapi risiko kecelakaan, sedangkan pemodal dan pemilik alat berat dinilai memperoleh keuntungan tanpa menanggung risiko keselamatan yang sama.
Dari sisi lingkungan, Tommy menyoroti aktivitas pengerukan tebing dan pemotongan kaki bukit menggunakan mesin dompeng yang menurutnya merusak daya dukung lingkungan di kawasan hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Batanghari. Aktivitas tersebut, kata dia, dapat memicu erosi, sedimentasi sungai, dan meningkatkan risiko longsor.
WALHI mendesak Pemerintah Kabupaten Solok Selatan, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat, dan pemerintah pusat mengambil langkah tegas untuk menindak aktivitas tambang emas ilegal serta mengungkap pihak-pihak yang memperoleh keuntungan dari kegiatan tersebut. Tommy juga menekankan pentingnya menyediakan alternatif ekonomi yang sah dan berkelanjutan bagi masyarakat di sekitar lokasi tambang.
Pada bagian lain, Tommy membantah pernyataan Kapolres Solok Selatan, AKBP Andreanaldo Ademi, yang menyebut aktivitas tambang di lokasi kejadian hanya berupa pendulangan emas secara manual.
“ Narasi pendulangan manual tidak sesuai dengan kenyataan lapangan, karena temuan masyarakat mengonfirmasi keterlibatan alat berat ekskavator dan mesin dompeng bertekanan tinggi,” kata Tommy.
WALHI menilai dugaan penggunaan alat berat tersebut perlu menjadi perhatian dalam penyelidikan aktivitas tambang ilegal di lokasi kejadian. Tommy juga mengkritik penanganan yang dinilainya berpotensi mengecilkan persoalan pertambangan ilegal menjadi sekadar kecelakaan kerja biasa.
Ia meminta aparat penegak hukum mengusut aktivitas pertambangan tersebut, termasuk menelusuri pihak yang diduga menjadi pemodal dan bertanggung jawab atas operasional tambang. Hingga berita ini disusun, bantahan WALHI tersebut merupakan pernyataan Tommy Adam, sementara penjelasan lebih lanjut dari pihak kepolisian diperlukan untuk memperjelas perbedaan keterangan mengenai aktivitas penambangan di lokasi tersebut.














