Sumbarkita – Wali Kota Padang, Fadly Amran, mendorong pengembangan produk herbal dan kuliner tradisional Sumatera Barat (Sumbar) sebagai daya tarik pariwisata kesehatan. Upaya tersebut dinilai perlu didukung riset ilmiah, standardisasi produk, serta kolaborasi antara pemerintah dan perguruan tinggi.
Hal itu disampaikan Fadly saat menjadi pembicara utama (keynote speaker) dalam Seminar Nasional dan Kongres Tahunan Asosiasi Perguruan Tinggi Farmasi Indonesia (APTFI) di The ZHM Premiere Padang, Jumat (9/10/2026).
Kegiatan yang berlangsung pada 8–10 Oktober 2026 itu mengusung tema “Digitalisasi Informasi Obat Herbal Terstandar dalam Mendukung Pariwisata Kesehatan di Sumatera Barat”.
Fadly berharap seminar dan kongres tersebut menghasilkan rekomendasi konkret untuk mengembangkan potensi herbal dan kuliner tradisional Sumbar. Menurutnya, kolaborasi pemerintah, perguruan tinggi, dan tenaga ahli diperlukan agar kekayaan lokal dapat diolah menjadi inovasi yang bernilai tambah.
“Kolaborasi ini diharapkan mampu melahirkan inovasi berbasis potensi lokal untuk mendukung pariwisata kesehatan dan pembangunan Sumbar,” kata Fadly.
Ia menjelaskan, Pemerintah Kota (Pemko) Padang terus mendorong terwujudnya visi Kota Pintar (Smart City) dan Kota Sehat melalui program terukur, pemanfaatan teknologi, serta kolaborasi lintas sektor. Menurutnya, keberhasilan program tersebut harus dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
“Visi ini harus terukur langsung oleh masyarakat. Kita ingin Padang menjadi Kota Pintar dan Kota Sehat, bukan hanya dari sisi konsep, tetapi juga melalui program nyata yang bisa dinilai dan dirasakan manfaatnya,” ujarnya.
Fadly menegaskan, konsep Kota Sehat tidak hanya bergantung pada keberadaan rumah sakit dan fasilitas kesehatan. Pembangunan infrastruktur, pengembangan pariwisata, kesiapsiagaan bencana, dan kemandirian masyarakat juga diperlukan untuk membangun ekosistem kota yang sehat dan berkelanjutan.
Ia menilai, kekayaan herbal Sumbar berpotensi mendukung sektor pariwisata, terutama melalui pengembangan wisata kuliner dan gastronomi. Dengan demikian, wisatawan tidak hanya menikmati keindahan alam, tetapi juga mengenal kuliner serta tradisi pengolahan bahan herbal yang berkembang di daerah tersebut.
“Kekayaan herbal Sumbar berpotensi memperkuat sektor pariwisata melalui pengembangan wisata kuliner. Kita berharap masukan para ahli dapat mendorong inovasi produk lokal menjadi daya tarik wisata sekaligus memperkenalkan kekayaan tradisi Sumatera Barat,” tuturnya.
Meski demikian, Fadly menekankan pengembangan produk herbal harus ditopang penelitian dan kajian ilmiah dari perguruan tinggi. Aspek pengolahan, standardisasi, dan keamanan produk perlu diperhatikan agar produk yang dikembangkan memenuhi persyaratan dan dapat dipercaya masyarakat.
Selain itu, pemerintah juga perlu memperhatikan pengawasan peredaran obat, penggunaan antibiotik, serta kepastian masyarakat memperoleh obat dari tempat yang legal.
“Di sektor pariwisata, kita juga terus mendorong penguatan gastronomi sebagai daya tarik wisata agar wisatawan tidak hanya menikmati keindahan alam, tetapi juga mengenal kuliner dan kekayaan herbal daerah. Upaya ini perlu didukung keamanan pangan, ekosistem kesehatan yang memadai, serta ketersediaan obat yang terjamin tentunya,” katanya.
Seminar dan kongres tahunan APTFI tersebut turut dihadiri Sekretaris Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Junaidi Khotib; Ketua APTFI, Yandi Syukri; Rektor Universitas Baiturrahmah, Musliar Kasim; Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah X, Afdalisma; serta Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sumbar, Aklima. Kegiatan ini juga diikuti peserta dari berbagai daerah di Indonesia dan negara sahabat.














