“Bagi kami sekarang mengetahui keberadaan serta kondisi ayah sudah lebih dari cukup,” ujar Dewi.
Kabar tersebut menjadi kelegaan bagi Dewi dan keluarganya setelah lebih dari dua dekade hidup tanpa kepastian mengenai keberadaan Pendri.
“Alhamdulillah sudah lega setelah mendengar kondisinya. Saya dan keluarga sudah menepati janji kami di awal,” ungkap Dewi.
Meski demikian, kepastian tersebut tidak menghapus kerinduan Dewi kepada ayahnya. Ia masih berharap dapat bertemu secara langsung dengan Pendri setelah lebih dari 20 tahun terpisah.
Untuk sementara, Dewi memilih membangun komunikasi melalui sambungan telepon. Ia mengaku belum memiliki biaya untuk datang langsung ke Sumatera Barat sehingga berencana menabung sembari menunggu situasi yang memungkinkan.
“Karena saya ingin bertemu dan belum ada biaya, untuk sekarang berkabar dulu lewat telepon. Sambil menabung dulu, apabila keluarga barunya memperbolehkan saya menemuinya,” tuturnya.
Dewi juga memahami kondisi kesehatan ayahnya yang disebut masih rentan. Berdasarkan informasi dari keluarga, kabar mengenai dirinya kepada Pendri disampaikan secara perlahan karena dikhawatirkan dapat memicu kembali gangguan kesehatan yang dialaminya.
“Kalau keluarga dari ayah, masih memberitahukan saya kepada beliau dengan pelan-pelan, takut kambuh lagi sakitnya,” kata Dewi.
Terpisah Sejak Dewi Berusia Satu Tahun
Sebelumnya, Dewi mencari Pendri yang kehilangan kontak dengan keluarga sejak Desember 2004. Saat komunikasi terakhir terputus, Dewi masih berusia sekitar satu tahun.
Menurut cerita yang diterimanya dari sang ibu, Pendri meninggalkan rumah dalam kondisi sakit. Saat itu, keluarganya meyakini Pendri harus pergi ke suatu tempat di Sumatera Barat untuk menjalani pengobatan.
“Menurut ibu saya, ayah pergi dalam keadaan sakit. Katanya, sakitnya itu hanya bisa disembuhkan di sana,” ujar Dewi kepada Sumbarkita, Rabu (16/9/2026).
Dalam perjalanan tersebut, Pendri disebut didampingi pamannya, yakni saudara laki-laki dari ayahnya. Setelah itu, komunikasi dengan keluarga perlahan terputus dan keberadaannya tidak lagi diketahui.
Keluarga sempat menduga Pendri menjadi salah satu korban tsunami karena waktu kepergiannya berdekatan dengan bencana tsunami Aceh pada akhir 2004. Namun, dugaan tersebut tidak pernah mendapatkan kepastian maupun bukti yang mengonfirmasinya.
“Dulu ibu saya berpikir mungkin ayah terkena bencana tsunami karena waktunya bertepatan. Saya percaya begitu saja,” katanya.
Seiring waktu, Dewi kembali membuka kemungkinan bahwa ayahnya masih hidup. Ia kemudian melakukan pencarian melalui media sosial dan pemberitaan. Keterbatasan biaya membuatnya belum mampu datang langsung ke Sumatera Barat.
Salah satu petunjuk yang dimiliki Dewi adalah informasi bahwa Pendri pernah kembali ke kampung halaman keluarganya di Sumatera Barat. Keluarga juga pernah menerima surat melalui pos yang menjadi salah satu komunikasi terakhir sebelum hubungan mereka benar-benar terputus.
Dalam pencarian itu, Dewi memperoleh informasi mengenai Elimarni yang disebut sebagai ibu Pendri. Nama tersebut kemudian menjadi salah satu petunjuk bagi Dewi untuk menelusuri keluarga besar ayahnya di Sumatera Barat.
Kini, setelah mengetahui Pendri masih hidup, Dewi tidak lagi mencari kepastian mengenai keberadaan ayahnya. Ia hanya berharap dapat perlahan membangun kembali komunikasi dan suatu hari bertemu langsung.
Bagi Dewi, pertemuan tersebut bukan tentang mengubah kehidupan ayahnya saat ini, melainkan menjadi kesempatan untuk mempertemukan kembali hubungan ayah dan anak yang terpisah selama lebih dari 20 tahun.













