Melihat kondisi tersebut, Nining langsung berusaha memanggil warga lainnya untuk keluar dari rumah dan mencari tempat yang lebih aman.
“Saya panik dan langsung mencoba memanggil yang lain untuk keluar. Kami sama-sama segera mengamankan diri,” katanya.
Menurut Nining, kondisi di kompleks perumahannya tidak separah sejumlah lokasi lainnya yang terdampak galodo. Meski demikian, sebagian warga memilih mengungsi, sementara sebagian lainnya tetap bertahan di rumah masing-masing.
Rumah Nining sendiri tidak mengalami kerusakan akibat galodo. Dampak yang dirasakannya terutama terjadi pada akses menuju rumah yang terdampak aliran air dan material.
“Alhamdulillah kami aman dan rumah juga aman. Yang mengalami kerusakan adalah akses ke rumah,” ujarnya.
Diketahui, galodo juga menerjang kawasan pusat pemerintahan Kabupaten Solok di Arosuka. Sedikitnya 12 kantor organisasi perangkat daerah (OPD) dilaporkan mengalami kerusakan akibat terjangan air dan material batu.
Dari sejumlah fasilitas pemerintahan yang terdampak, kantor Dinas Pekerjaan Umum (PU) disebut mengalami kerusakan paling parah. Material batu berukuran besar masuk hingga ke dalam bangunan dan merusak sejumlah fasilitas.
Selain menyebabkan kerusakan, galodo tersebut juga mengakibatkan dua warga terseret arus deras. Satu korban berusia 21 tahun ditemukan dalam kondisi meninggal dunia pada Selasa (22/9/2026), sedangkan seorang korban lainnya yang diperkirakan berusia sekitar 60 tahun masih dalam pencarian tim SAR gabungan.
Sementara itu, warga yang terdampak dan mengungsi telah ditempatkan di sejumlah lokasi aman, di antaranya Kompleks Rumah Dinas Wakil Bupati Solok dan area pabrik Aqua Arosuka.











