“Pasokan BBM bersubsidi ke wilayah ini sangat jarang dan sedikit, sehingga warga harus datang lebih cepat agar tidak kehabisan stok,” ungkapnya.
Ia mengatakan kesulitan mendapatkan Pertalite tidak hanya terjadi di Kecamatan Rao Selatan, tetapi juga dirasakan warga di sejumlah wilayah lain di Kabupaten Pasaman.
“Kondisi sulit dapat Pertalite ini merata, termasuk di SPBU 14.263.596 Panti dan titik pengisian lainnya di sepanjang jalur utama,” jelasnya.
Berdasarkan pantauan Sumbarkita di lapangan, akses masyarakat untuk mendapatkan Pertalite terlihat terbatas di sejumlah SPBU, antara lain SPBU 14.263.596 Kauman, SPBU 14.263.559 Padang Mentinggi di Jalan Lintas Sumatera jalur Bukittinggi–Medan, Jorong Sumpadang, Nagari Padang Mentinggi, Kecamatan Rao, serta SPBU 14.263.589 Sawah Panjang di perbatasan Nagari Aia Manggih dan Nagari Durian Tinggi, Kecamatan Lubuk Sikaping.
Di kompleks SPBU 14.263.596 Kauman, Sumbarkita juga menemukan dua unit minibus yang sedang memindahkan Pertalite ke sejumlah jeriken di dalam bagasi kendaraan. Temuan tersebut terjadi di tengah keluhan warga mengenai terbatasnya ketersediaan BBM bersubsidi.
Selain itu, antrean kendaraan roda empat, yang didominasi truk, terlihat menumpuk di SPBU 14.263.589 Sawah Panjang dan SPBU 14.263.596 Panti.
Keluhan warga dan temuan di lapangan tersebut menyoroti persoalan ketersediaan Pertalite di sejumlah titik di Pasaman. Namun, dugaan pelangsiran yang disampaikan warga masih memerlukan penelusuran lebih lanjut untuk memastikan penyebab cepat habisnya stok BBM bersubsidi.











