Sumbarkita – Siswa Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Taman Kanak-kanak (TK), Sekolah Dasar (SD), dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kota Padang kembali mengikuti pembelajaran tatap muka (PTM) mulai Senin (21/9/2026).
Kebijakan tersebut berlaku bagi sekolah negeri maupun swasta setelah kondisi kualitas udara di Kota Padang dinyatakan membaik.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Padang, Yopi Krisvola, mengatakan keputusan untuk kembali melaksanakan proses belajar mengajar (PBM) secara tatap muka diambil setelah pemerintah memantau perkembangan kualitas udara.
“Sehubungan dengan kondisi udara di Kota Padang sudah baik proses PBM kembali ke sekolah untuk PAUD, TK, SD dan SMP negeri dan swasta dimulai Senin tanggal 21 September 2026,” kata Yopi kepada Sumbarkita, Minggu (20/9/2026).
Sebelumnya, kegiatan pembelajaran bagi siswa di jenjang tersebut disesuaikan menjadi Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) menyusul memburuknya kualitas udara akibat asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Yopi menyebutkan, data Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Padang dan IQAir yang menjadi acuan Pemerintah Kota Padang sempat mencatat kualitas udara mencapai angka 904 pada Rabu (16/9/2026). Angka tersebut masuk kategori berbahaya.
“Data DLH Kota Padang dan IQAir yang digunakan Pemerintah Kota Padang mencatat angka 904 atau masuk kategori berbahaya pada Rabu (16/9/2026),” ujar Yopi.
Namun, kondisi udara berangsur membaik setelah hujan mengguyur Kota Padang pada Sabtu (19/9/2026). Perubahan kualitas udara tersebut menjadi salah satu pertimbangan pemerintah untuk kembali menerapkan pembelajaran tatap muka.
“Berdasarkan data Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di Jl. Jend. Sudirman, Kota Padang, pada Minggu (20/9/2026) pukul 09.00 WIB, kualitas udara tercatat berada pada angka 41 atau kategori baik,” ujar Yopi.
Meski pembelajaran tatap muka kembali digelar, Yopi mengingatkan siswa, orang tua, dan masyarakat tetap memperhatikan kondisi udara serta mengutamakan kesehatan.
“Gunakan masker dan mengurangi aktivitas di luar ruangan tanpa masker,” ujar Yopi.
Ia mengatakan kualitas udara masih dapat berubah mengikuti kondisi cuaca maupun perkembangan kebakaran hutan dan lahan. Karena itu, pihak sekolah dan orang tua diminta terus memantau perkembangan kualitas udara serta mengikuti arahan pemerintah.
“Jika nanti kualitas udara kembali berada pada kondisi yang membahayakan maka akan dilakukan evaluasi kembali dan akan dilakukan penyesuaian pembelajaran lagi,” ujar Yopi.














