Sumbarkita – Tokoh masyarakat Nagari Tungkar, Kecamatan Situjuah Limo Nagari, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat, Fajar Rillah Vesky mengadukan kondisi irigasi Bandar Parik dan irigasi Bandar Nunang kepada calon Gubernur Sumbar, Epyardi Asda. Pasalnya, kedua irigasi itu sudah lama rusak, tetapi tidak kunjung diperbaiki oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumbar.
“Irigasi Bandar Parik dan Bandar Nunang merupakan kewenangan Pemprov Sumbar karena terletak di dua kabupaten, yaitu Limapuluh Kota dan Tanah Datar. Kedua irigasi tersebut sudah lama rusak, tetapi tidak kunjung diperbaiki oleh Pemprov Sumbar,” ujar Fajar kepada Epyardi saat calon gubernur tersebut bersilaturahmi dengan masyarakat Nagari Tungkar, Kamis (3/10).
Mumpung bertemu dengan Epyardi, Fajar berterima kasih kepada anggota DPR RI, Athari Gauthi Ardi, melalui Epyardi karena Athari sudah membantu perbaikan irigasi Bandar Parik melalui dana aspirasi sebanyak Rp200 juta. Fajar mengapresiasi Athari, anak Epyardi, karena sudah membawa dana aspirasinya ke Limapuluh Kota, yang merupakan daerah pemilihan (dapil) 2 Sumbar dalam pileg, padahal Athari berasal dari dapil 1.
“Biasanya anggota DPR hanya membantu dapilnya. Tapi, Athari mau membantu dapil 2 walau berasal dari dapil 1. Bantuan dari Athari memang belum menyelesaikan perbaikan irigasi Bandar Parik karena kerusakannya panjang, tetapi setidaknya bantuan dari Athari menunjukkan kepeduliannya terhadap masalah petani di Tungkar,” ucap anggota DPRD Limapuluh Kota itu.
Selain berharap Athari menyalurkan dana aspirasinya lagi untuk memperbaiki irigasi Bandar Parik, Fajar berharap Epyardi memperbaiki irigasi tersebut jika menjadi gubernur.
Tokoh masyarakat Tungkar lainnya, Yusrizal Datuak Pado, mengatakan bahwa air irigasi Bandar Parik dan Bandar Nunang bersumber di sungai Batang Sandir, Nagari Barulak, Kecamatan Tanjung Baru, Kabupaten Tanah Datar. Kedua irigasi tersebut rusak karena tebing pinggirnya runtuh sehingga menghambat air untuk mengalir ke saluran irigasi. Untuk menyiasatinya, kata Yusrizal, selama ini masyarakat Tungkar bergotong-royong memperbaiki dinding irigasi itu dengan papan, sedangkan untuk mengalirkan air dari sumbernya, masyarakat menggunakan batuang (bambu besar).
“Irigasi Batang Parik panjangnya 800 meter. Yang sudah diperbaiki dengan dana Athari sepanjang 200 meter. Sementara itu, irigasi Batang Nunang tidak ada kapalo bandanya (cek dam). Dulu ada kapalo bandanya di zaman Belanda, tetapi sudah hancur diterjang banjir,” tutur Wali Nagari Tungkar itu.