Memasuki September 2025, kekerasan fisik mulai terjadi. Korban dipukul karena dianggap lambat bekerja dan tidak merapikan rumah, padahal ia harus menjaga dua bayi kembar sepanjang hari. Ia terus dimarahi dan diperlakukan kasar.
Pada November 2025, kekerasan meningkat drastis. Korban dipukul, dicekik, dihantamkan kepalanya ke dinding, hingga dipukul dengan ponsel. Puncaknya, majikan menyiram tubuh korban dengan air mendidih sehingga menyebabkan luka bakar di punggung dan lengan kanan. Meski terluka, korban tetap dipaksa bekerja tanpa istirahat, hanya diberi waktu tidur sekitar 30 menit per hari.
Pada Jumat (14/11/2025), korban mendengar percakapan majikan wanita yang meminta suaminya memanaskan air lagi untuk disiramkan ke tubuh korban karena melihatnya sempat tertidur di dapur melalui kamera CCTV. Ketakutan, korban kemudian nekat melarikan diri melalui jendela dan merosot ke lantai bawah hingga akhirnya diselamatkan petugas.
Hermono menyebut kasus ini sebagai “kekejaman yang di luar batas kemanusiaan” dan meminta polis Malaysia menindak para pelaku sesuai hukum yang berlaku.













