Oleh: Muhibbullah Azfa Manik*
Lebaran di Indonesia terus berubah mengikuti zaman. Teknologi digital mengubah cara orang mengirim ucapan selamat. Media sosial menjadi ruang baru untuk berbagi kebahagiaan hari raya.
Menjelang Lebaran, ada satu ritme yang selalu berulang di Indonesia. Pusat perbelanjaan memanjang jam operasionalnya, jalanan dipenuhi kendaraan pemudik, dan percakapan keluarga sering kali berujung pada dua hal yang sama: kapan THR cair dan siapa saja yang akan datang ke rumah saat hari raya.
Lebaran di Indonesia memang tidak sekadar perayaan keagamaan. Ia merupakan peristiwa sosial yang hampir menyerupai musim tahunan dengan pola konsumsi, mobilitas, dan interaksi sosial yang selalu meningkat dalam waktu singkat. Dalam momen itulah dua tradisi menjadi sangat menonjol: tunjangan hari raya (THR) dan kebiasaan gelar griya (open house). Keduanya tampak sederhana. Yang satu berupa uang tambahan bagi pekerja, yang lain berupa tradisi membuka rumah bagi tamu. Namun, jika diperhatikan lebih dekat, dua praktik itu sebenarnya membentuk lanskap sosial-ekonomi Lebaran yang khas di Indonesia.
Bagi banyak pekerja, THR bukan sekadar bonus tahunan. Ia merupakan semacam “napas ekonomi” yang datang pada saat pengeluaran keluarga meningkat. Dalam regulasi ketenagakerjaan Indonesia, THR diwajibkan bagi perusahaan dan umumnya setara dengan satu bulan gaji bagi pekerja yang telah bekerja minimal satu tahun, sementara bagi yang masa kerjanya lebih pendek dihitung secara proporsional.
Namun, di luar aspek hukum, THR memiliki makna yang lebih luas. Ia menjadi bagian dari budaya ekonomi Lebaran.
Begitu THR cair, aliran uang segera bergerak. Toko pakaian dipenuhi pembeli yang mencari baju baru untuk salat Id. Pedagang kue kering menerima pesanan dalam jumlah besar. Tiket transportasi melonjak karena jutaan orang bersiap pulang ke kampung halaman.
Dalam bahasa ekonomi, THR menciptakan efek pengganda konsumsi. Uang yang diterima pekerja tidak berhenti di rekening bank; ia segera berpindah ke pasar, pusat perbelanjaan, pedagang kecil, hingga sektor transportasi. Dalam waktu singkat, roda ekonomi berputar lebih cepat.
Menariknya, praktik THR juga meluas melampaui sektor formal. Di banyak rumah tangga, pemberian uang tambahan kepada asisten rumah tangga, sopir, atau pekerja harian menjadi kebiasaan yang hampir dianggap sebagai norma sosial. Tidak ada aturan tertulis, tetapi tekanan moralnya terasa kuat.














