Sumbarkita — Sosok mahasiswa Politeknik Negeri Padang (PNP) berinisial FDA (23) yang ditemukan tewas di kamar kosnya di kawasan Jalan Jawa Gadut, Limau Manis, Kecamatan Pauh, Kota Padang, dikenang sebagai pribadi yang pendiam dan tertutup oleh teman-temannya.
Salah seorang teman sekaligus tetangga sekampung korban, Bima Adistian (21), menyebut FDA bukan tipe orang yang banyak bicara, terutama terkait persoalan pribadi.
Ia menyebut korban tidak pernah menceritakan persoalan pribadi kepada dirinya maupun orang lain.
“Kalau masalah pribadi, kami tidak tahu. Dia tidak pernah cerita sama siapa pun,” kata Bima saat ditemui Sumbarkita di Rumah Sakit Bhayangkara Padang, Sabtu (11/4/2026).
Bima mengaku mengenal korban sejak lama karena berasal dari kampung yang sama di Jorong Pincuran Tujuh, Nagari Lubuk Gadang, Kecamatan Sangir, Kabupaten Solok Selatan. Keduanya juga sempat bersekolah bersama.
Di balik sifatnya yang tertutup, FDA dikenal sebagai anak yang berbakti kepada orang tua. Saat pulang kampung, ia kerap membantu orang tuanya berjualan.
“Kalau di kampung, dia sering bantu orang tuanya berjualan,” ujarnya.
Bima juga mengungkapkan bahwa korban tidak pernah menunjukkan tanda-tanda memiliki masalah serius. Hal itu membuat kabar meninggalnya FDA mengejutkan banyak pihak, termasuk keluarga dan teman-temannya.
Menurut informasi yang diterima keluarga, korban diketahui sudah sekitar empat hari tidak memberikan kabar sebelum akhirnya ditemukan meninggal dunia di kamar kosnya.
Kabar tersebut pertama kali diketahui Bima dari media sosial. Ia melihat sebuah video yang memperlihatkan wajah korban, yang kemudian diperkuat dengan beredarnya data akademik korban.
“Saat lihat video itu, saya langsung yakin itu dia. Apalagi ada data KRS-nya juga yang tersebar,” katanya.
Kepergian FDA meninggalkan duka mendalam bagi keluarga dan orang-orang terdekatnya. Hingga Sabtu sore, sejumlah kerabat dan teman korban masih terlihat berada di Rumah Sakit Bhayangkara Padang menunggu proses pengambilan jenazah.
Sebelumnya, Kapolsek Pauh, AKP Edi Harto, menceritakan kronologi kejadian. Dia mengatakan pihaknya menerima informasi terkait penemuan mayat tersebut, lalu langsung menuju lokasi bersama personel piket untuk melakukan pengecekan.
“Setelah mendapat informasi, personel langsung ke tempat kejadian perkara (TKP). Di lokasi, korban ditemukan dalam kondisi tergantung menggunakan tali di pintu kamar mandi,” ujar Edi dalam laporan tertulis.
Peristiwa ini pertama kali diketahui oleh pemilik kos, Mesi (25). Ia mendatangi kamar korban setelah dihubungi keluarga korban yang khawatir karena tidak bisa menghubungi korban.
Saat tiba di lokasi, saksi sempat memanggil dan mengetuk pintu kamar, namun tidak mendapat respons. Karena curiga, ia kemudian membuka pintu menggunakan kunci cadangan.
“Setelah pintu dibuka, saksi terkejut melihat korban sudah dalam kondisi tergantung di dalam kamar,” jelasnya.
Di lokasi kejadian, petugas juga menemukan sebuah pesan yang ditulis tangan oleh korban di selembar kertas buku. Dalam pesan tersebut, korban meminta agar siapapun yang menemukan catatan itu membuka ponsel miliknya.
Isi pesan itu berbunyi, “Siapapun yang baca buku ini tolong buka HP dan WA ku. Ada pesan untuk keluargaku yang aku lakukan ini dan baca pesan WA ku.”
Petugas dari Polsek Pauh bersama tim identifikasi Polresta Padang kemudian melakukan olah TKP. Setelah itu, jenazah korban dievakuasi ke Rumah Sakit Bhayangkara Padang untuk pemeriksaan lebih lanjut oleh tim medis.












