Oleh: Supri HS*
Polemik Sumbar Teacher Summit 2026 yang diwarnai isu pungutan biaya dan sorotan Ombudsman seharusnya tidak berhenti pada pembahasan administrasi semata. Ada fenomena mendasar yang jauh lebih mengkhawatirkan daripada hal itu: Betapa rapuhnya daya kritis sebagian pendidik kita ketika dihadapkan pada kemasan seremonial yang mewah.
Acara itu menjadi cermin jernih yang memantulkan realitas pahit bahwa masih banyak guru yang lebih memburu validasi visual daripada substansi pengembangan kompetensi.
Sihir bahasa asing dan legitimasi semu
Cukup diberi tajuk mentereng berbau bahasa Inggris, yakni “Sumbar Teacher Summit”, dipadukan dengan poster estetik dan kehadiran pejabat setingkat gubernur, kegiatan itu langsung dipercaya oleh para guru sebagai agenda resmi nan bergengsi tingkat nasional. Selain itu, ada ajang penyerahan piagam penghargaan ala-ala kementerian di Jakarta.
Padahal, acara itu diinisiasi oleh penyelenggara independen bernama Indonesia Inspiring Teacher. Penyelenggara itu kemudian mengajak Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMA SMK dan SLB se-Sumatera Barat untuk bergabung menyelenggarakan acara. Penyelenggara melibatkan pejabat agar menambah kesan mewah dan gengsi acara. Pola pengemasan acara seperti itu cerdik, yaitu memanfaatkan nama besar MKKS dan figur publik untuk menciptakan legitimasi.
Penarikan kontribusi Rp200 ribu dari peserta
Guru-guru yang sudah kadung tertarik akan kemegahan konsep acara dan ngebet ingin ikut, tanpa pikir panjang, langsung menyanggupi pembayaran kontribusi Rp200 ribu per peserta.
Itulah kondisi guru kita hari ini: alih-alih bersikap kritis mempertanyakan relevansi materi, rekam jejak penyelenggara, atau urgensi biaya yang dikeluarkan, tidak sedikit guru yang justru telanjang mata menelan mentah-mentah tawaran tersebut.
Mengapa begitu mudah tergiur? Jawabannya sederhana: validasi.
Pada era yang serba dipamerkan ini, ruang-ruang seminar sering kali berubah fungsi dari tempat menimba ilmu menjadi latar belakang foto yang indah. Judul acara yang keren, adanya sesi apresiasi guru dan sekolah berprestasi, hingga kehadiran pejabat untuk menyerahkan piagam secara langsung merupakan magnet utama acara itu.














