Sumbarkita — Hujan lebat yang turun selama lima hari terakhir ini memicu banjir besar, tanah longsor, dan angin kencang di 17 kecamatan dan 77 nagari di Padang Pariaman. Ribuan rumah terendam, belasan rumah hanyut, satu warga hilang, dan hampir semua sektor kehidupan lumpuh.
Kepala Pelaksana BPBD Padang Pariaman, Emri Nurman, mengatakan bahwa curah hujan ekstrem yang berlangsung sejak Sabtu (22/11) pagi menyebabkan debit air sejumlah sungai utama, seperti Batang Anai, Batang Ulakan, Batang Tapakih, Batang Mangoe hingga Batang Kamumuan, meluap deras ke permukiman warga.
“Air naik sangat cepat. Banyak nagari yang tidak memiliki waktu untuk menyelamatkan harta benda. Prioritas kami segera evakuasi jiwa dulu karena beberapa lokasi sudah terisolasi,” ujarnya pada Kamis (27/11) malam.
Hingga kini, kata Emri, 3.450 unit rumah terendam dengan total 10.575 jiwa terdampak. Selain itu, katanya, 13 unit rumah hanyut, 17 rumah rusak berat, serta fasilitas ibadah dan sekolah terendam. Seorang warga di Lubuk Alung, katanya, dinyatakan hilang setelah jembatan runtuh terseret arus banjir.
“Tim kami masih berupaya melakukan pencarian. Kondisi arus sungai yang kuat cukup menyulitkan, namun pencarian tidak kami hentikan,” kata Emri.
Emri menginformasikan bahwa banjir terparah tercatat di Kecamatan Ulakan Tapakih, Lubuak Aluang, Batang Anai, dan Nan Sabaris. Sementara itu, tanah longsor, katanya, melanda 28 titik di 13 kecamatan, merusak badan jalan, irigasi, hingga fasilitas pendidikan. Ia menyebut bahwa sejumlah akses utama termasuk jalur di depan RSUD Padang Pariaman menuju Polres Padang Pariaman putus total akibat amblas.
“Hampir semua jenis infrastruktur terdampak: jalan amblas, jembatan rusak, irigasi terputus, bahkan tebing sungai tergerus hingga mengancam permukiman. Ini bencana yang kompleks dan meluas,” tutur Emri.
Hingga Kamis (27/11) sore, kata Emri, jumlah pengungsi tercatat 2.968 jiwa, yang tersebar di posko dan rumah warga yang tidak terdampak. Ia menyebut bahwa dapur umum didirikan di beberapa nagari seperti Kampuang Galapuang Ulakan, Manggopoh Palak Gadang, Kasai, dan Sandi Ulakan. Tim gabungan BPBD, Basarnas, TNI, Polri, Satpol PP, Dinas Sosial, relawan, hingga masyarakat bekerja membersihkan material banjir dan longsor.












