Sumbarkita – Kanker paru masih menjadi salah satu penyakit dengan tingkat kematian tertinggi di dunia. Kondisi ini kerap dijuluki silent killer karena pada tahap awal hampir tidak menimbulkan gejala khas, bahkan sering disangka hanya flu atau kelelahan biasa.
Konsultan Onkologi Medis Ahli Kanker Paru dari Parkway Cancer Centre (PCC), Dr. Lim Hong Liang, menjelaskan bahwa kanker paru bermula dari pertumbuhan sel abnormal yang tidak terkendali di jaringan paru. Sel kanker tersebut bahkan bisa menyebar ke organ lain seperti otak, tulang, atau hati.
“Batuk berkepanjangan, sesak napas, atau nyeri dada sering dianggap sepele, padahal bisa menjadi tanda awal kanker paru,” jelas Dr. Lim, mengutip detik, Sabtu (15/11).
Deteksi Dini Melalui CT Scan Dosis Rendah
Menurut Dr. Lim, kanker paru dapat ditemukan lebih awal melalui pemeriksaan CT scan dosis rendah. Metode ini memungkinkan deteksi kanker sebelum gejala muncul, sehingga peluang kesembuhan lebih tinggi.
“Semakin cepat kanker ditemukan, semakin besar kemungkinan diobati secara efektif,” ujarnya.
Faktor Risiko: Dari Rokok Hingga Polusi
Gaya hidup tidak sehat menjadi pemicu utama, terutama kebiasaan merokok. Selain itu, paparan asap rokok pasif, polusi udara, dan zat kimia industri turut meningkatkan risiko. Dr. Lim menegaskan bahwa penggunaan vape atau rokok elektrik bukanlah alternatif yang aman.
Pengobatan Modern: Lebih Maju dari Kemoterapi Konvensional
Dengan kemajuan teknologi medis, pengobatan kanker paru kini tidak hanya mengandalkan kemoterapi. Terapi bertarget dan imunoterapi menawarkan peluang hidup lebih panjang.
“Pasien bisa hidup dua hingga tiga kali lebih lama dibandingkan kemoterapi biasa,” ungkap Dr. Lim.
Salah satu contohnya adalah terapi EGFR Tyrosine Kinase Inhibitor (TKI), yang terbukti efektif untuk pasien kanker paru stadium lanjut dengan mutasi gen EGFR. Sekitar 80 persen pasien mengalami perbaikan gejala dalam beberapa minggu pertama.
Sementara itu, imunoterapi membantu sistem imun tubuh mengenali dan menyerang sel kanker. Beberapa pasien bahkan mampu bertahan hidup lebih dari lima tahun setelah menjalani terapi tersebut.
Dr. Lim menambahkan bahwa penanganan pasien harus dilakukan secara holistik, mencakup kondisi fisik dan emosional.
“Tujuan kami bukan hanya memperpanjang usia, tapi juga menjaga kualitas hidup pasien,” katanya.
Gejala Ringan yang Perlu Diwaspadai
Masyarakat diimbau lebih memahami gejala awal kanker paru, terutama yang sering disangka flu atau infeksi ringan. Beberapa tanda yang perlu diwaspadai antara lain:
- Batuk yang tidak kunjung reda atau semakin parah
- Batuk berdarah atau dahak berwarna karat
- Sesak napas tanpa sebab yang jelas
- Nyeri dada atau bahu, terutama saat menarik napas dalam
- Suara serak yang berlangsung lama
- Infeksi paru berulang seperti bronkitis atau pneumonia
- Kehilangan nafsu makan atau penurunan berat badan tanpa sebab
- Mudah lelah atau tubuh terasa lemah berkepanjangan















