Oleh: Jenia Ghaziah*
Orang yang pernah melihat foto atau cerita tentang Sekolah Tinggi Ilmu Beruk di Pariaman mungkin reaksi pertama mereka hampir selalu sama, yakni tersenyum, lalu bertanya setengah bercanda: “Serius ada kampus untuk beruk?”
Nama itu memang memikat, ringan, jenaka, dan cepat menangkap perhatian. Akan tetapi, setelah senyum itu ada ruang kosong yang perlu kita isi dengan pertanyaan-pertanyaan serius: Apa yang terjadi di balik atraksi itu? Siapa yang sebenarnya diuntungkan? Apakah kreativitas lokal itu menghormati makna budaya dan martabat makhluk hidup?
Mari kita bahas hal itu dengan obrolan ringan saja seperti mengobrol dengan tetangga di warung kopi tanpa mengendurkan kecermatan.
Desa Apar, tempat Sekolah Tinggi Ilmu Beruk bermula, merupakan contoh bagaimana komunitas kecil melihat peluang dalam keterbatasan. Kota Pariaman bukan kota metropolis. Nyawa ekonominya bergantung pada laut, tambak, dan aktivitas lokal. Ketika wisatawan mulai mencari pengalaman yang otentik, masyarakat mengemas tradisi lama, termasuk kebiasaan melatih beruk untuk memetik kelapa, menjadi sebuah paket yang mudah dipahami dan dinikmati oleh pengunjung. BUMDes setempat bergerak cepat. Homestay terisi, UMKM kebanjiran pesanan, dan desa mendapatkan sorotan dari peta wisata nasional.
Di permukaan, semuanya tampak win-win: budaya berbicara, ekonomi bergerak, pengunjung pulang dengan cerita lucu. Namun, mari kita melongok ke balik layar. Ada tiga ranah yang harus kita bicarakan secara jujur, yaitu kesejahteraan hewan, makna budaya, dan tata kelola.
Pertama, kesejahteraan hewan. Beruk, sebagai makhluk hidup, punya kebutuhan dasar: makanan cukup dan bernutrisi, ruang untuk bergerak, waktu istirahat, serta perawatan medis bila sakit. Ketika menjadi atraksi, beruk bekerja, menunjukkan perilaku yang diminta manusia demi hiburan atau foto.
Orang dengan mudah tertawa saat melihat atraksinya. Namun, berpikir bagaimana rasanya berada di posisi itu, lebih susah. Kalau kita sungguh peduli, prioritas bukan sekadar jumlah pengunjung, melainkan juga kualitas hidup beruk. Jadwal “tampil” harus manusiawi, ada pemeriksaan kesehatan rutin, dan ada lingkungan yang mendukung kebutuhan sosial serta biologis mereka. Tanpa semua itu, kita berisiko mengubah makhluk hidup menjadi mesin atraksi yang kelelahan dan tertekan.
Kedua, soal makna budaya. Tradisi melibatkan hewan dalam kegiatan manusia bukan hal baru di banyak komunitas. Namun, ada perbedaan tipis antara menghargai tradisi dan menjadikannya tontonan. Ketika praktik lama dikemas menjadi pertunjukan untuk turis, dengan label “kampus” yang mengundang tawa, kita harus bertanya: Apakah konteks sejarah dan nilai-nilai asli disertakan, ataukah tradisi itu hanya dipotong-potong menjadi komoditas yang mudah difoto? Budaya yang diperdagangkan tanpa narasi pendamping sering kehilangan kedalamannya. Wisatawan pulang dengan foto lucu, tetapi tidak paham mengapa praktik itu dulu ada, apa maknanya bagi kehidupan warga, dan bagaimana ia terhubung dengan ekosistem lokal.














