Oleh: Billy Saputra
Selama lebih dari lima tahun terakhir, roda organisasi alumni Universitas Andalas (UNAND) bergerak tertatih. Di tengah dunia yang berlari kencang, ekosistem alumni yang seharusnya menjadi lokomotif jejaring, karier, dan kontribusi sosial justru terjebak dalam ritme yang lamban. Menjelang pemilihan Ketua Umum Ikatan Alumni (IKA) UNAND pada 29 November 2025, satu pertanyaan kian bergema: apakah sudah waktunya tongkat estafet diserahkan kepada generasi muda?
Ini bukan pertanyaan kecil. Ini pertanyaan tentang arah masa depan.
Era Baru, Energi Baru
Dunia telah berubah. Kepemimpinan muda bukan lagi wacana eksperimental, tetapi realitas global. Di usia 34 tahun, Ibrahim Traoré memimpin Burkina Faso. Gabriel Attal menjadi PM termuda Prancis. Daniel Noboa memimpin Ekuador di usia 35 tahun. Bahkan di pusat kekuatan politik Amerika Serikat, Zohran Mamdani (33), baru saja terpilih sebagai Wali Kota New York pertama yang beragama Islam dan keturunan India.
Pesannya sederhana: energi muda bukan ancaman, energi muda adalah dorongan.
IKA UNAND tidak boleh menutup mata terhadap arus perubahan ini. Organisasi alumni masa kini menuntut visi digital, kecepatan mengambil keputusan, keterampilan kolaborasi, dan kemampuan membaca tantangan global. Generasi muda UNAND memiliki itu semua, dan jumlah mereka kini mencapai lebih dari 60 persen populasi alumni.
Lalu, mengapa suara mereka belum benar-benar hadir di pucuk kepemimpinan?
Minang dan Indonesia Tidak Kekurangan Teladan Muda
Sejarah bangsa Indonesia ditulis oleh tangan-tangan muda. Dari ranah Minang, kita punya Mohammad Hatta yang menjadi Wakil Presiden di usia 43 tahun, Sutan Sjahrir yang memimpin negara di usia 36 tahun, dan Tan Malaka yang telah mengguncang dunia pergerakan sejak usia 20-an. Di Padang, Bagindo Azizchan gugur sebagai pahlawan saat masih sangat muda. Dan jangan lupa Rasuna Said, ikon perempuan Minang, yang memimpin organisasi besar pada usia 20-an.
Regenerasi bukanlah pengkhianatan pada tradisi. Justru, ia adalah penghormatan terhadap semangat sejarah Minangkabau itu sendiri: muda berani memimpin, tua bijak membimbing.
ILUNI UI Sudah Melompat Jauh: Mengapa IKA UNAND Terpaku?
Universitas Indonesia yang dikenal sebagai rumah para teknokrat dan menteri telah melakukan pembaruan signifikan melalui pemilihan langsung. Empat dari tujuh calon ketua umum datang dari generasi alumni muda. Prosesnya terbuka, demokratis, dan didukung penuh oleh para senior sebagai mentor.
Regenerasi bukan mengganti yang lama, tetapi memperkuat barisan.
IKA UNAND perlu jujur melihat cermin. Apakah organisasinya hari ini cukup relevan, cukup progresif, dan cukup inklusif untuk menjawab tuntutan zaman?
Tantangan Nyata yang Tak Bisa Lagi Diabaikan
Alumni muda UNAND menghadapi tantangan konkret:
- Karier yang banyak stagnan di level menengah.
- Belum adanya dana abadi alumni.
- Minimnya alumni pengusaha besar yang terintegrasi dalam komunitas.
- Lemahnya kemampuan bahasa Inggris dan komunikasi global.
- Jejaring profesional antar alumni yang belum kuat.
- Media sosial alumni yang pasif dan tidak menjadi pusat kesempatan.
- Minimnya dukungan untuk lulusan baru.
Di tingkat nasional, belum ada menteri dari UNAND sejak 2018. Pada jajaran direksi BUMN, ITB, UI, dan UGM masih dominan. Ironisnya, banyak dari para pemimpin itu berasal dari SMA unggulan Sumbar, ekosistem awal yang sama.
Potensi kita sama. Yang berbeda hanya satu: kualitas jejaring dan keberanian berbenah.
Ketika Presiden Bicara tentang Kampus Indonesia Masuk 100 Besar Dunia
Presiden Republik Indonesia menegaskan bahwa bangsa ini harus memiliki universitas yang mampu menembus peringkat 100 besar dunia.
Mengapa bukan UNAND?
Pertanyaan ini tidak bisa dijawab oleh rektorat saja. Tidak bisa dibebankan pada mahasiswa atau dosen saja. Alumni adalah representasi dunia kerja, industri, usaha, dan pengaruh publik. Tanpa organisasi alumni yang progresif, tujuan besar itu hanyalah retorika.
Untuk melompat ke kelas dunia, IKA UNAND butuh kepemimpinan yang transparan, inklusif, berani mengambil risiko, dan mampu membangun kolaborasi lintas generasi. Inilah karakter kepemimpinan muda.
Waktunya yang Muda Tidak Hanya Hadir, Tapi Memimpin
IKA UNAND berada di persimpangan sejarah. Jika ingin hidup, relevan, dan berdaya guna, organisasi ini membutuhkan wajah yang sanggup memahami dunia digital, tantangan karier modern, dan peluang global.
Ini bukan tentang menggeser senior. Ini tentang membangun jembatan.
Ini bukan tentang mempertentangkan generasi. Ini tentang menyatukan visi.
Ini bukan tentang ingin tampil. Ini tentang ingin membawa UNAND melangkah jauh.
Jika ILUNI UI bisa melompat ke masa depan, mengapa IKA UNAND masih melangkah kecil?
Jika bangsa memberi ruang bagi pemimpin muda, mengapa organisasi alumni UNAND tidak?
Jawabannya ada pada pemilihan 29 November mendatang.
Bukan sekadar memilih ketua.
Tetapi memilih arah.
Memilih semangat.
Memilih masa depan.
Dan mungkin, memilih untuk akhirnya berkata:
Sudah waktunya yang muda maju.
*Billy Saputra merupakan alumni muda UNAND














