Sumbarkita – Nilai tukar rupiah ditutup melemah ke level Rp17.382 per dolar AS pada perdagangan Jumat (8/5/2026) sore.
Mata uang Garuda tercatat turun 49 poin atau 0,28 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya di tengah meningkatnya kehati-hatian pelaku pasar global terhadap arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat.
Pergerakan mata uang Asia terhadap dolar AS pada perdagangan hari ini terlihat bervariasi. Yuan China menguat 0,01 persen dan dolar Singapura naik 0,13 persen. Yen Jepang juga terapresiasi 0,18 persen, sementara dolar Hong Kong menguat 0,03 persen.
Di sisi lain, won Korea Selatan melemah 0,38 persen, peso Filipina turun 0,34 persen, dan ringgit Malaysia terdepresiasi 0,29 persen terhadap dolar AS.
Mata uang utama negara maju juga bergerak beragam. Euro menguat 0,30 persen, poundsterling Inggris naik 0,42 persen, dolar Australia terapresiasi 0,35 persen, dolar Kanada menguat 0,10 persen, dan franc Swiss naik 0,27 persen terhadap dolar AS.
Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, mengatakan pelemahan rupiah dipengaruhi sentimen global yang masih bergerak dinamis.
Menurut dia, pasar mulai merespons munculnya harapan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran di kawasan Timur Tengah yang turut memengaruhi pergerakan aset global.
Selain itu, rupiah juga tertekan akibat munculnya perbedaan pandangan dari pejabat Federal Reserve (The Fed) terkait arah suku bunga AS.
Beth Hammack dari The Fed Cleveland menyatakan suku bunga kemungkinan akan tetap berada di level tinggi untuk sementara waktu.














