Sumbarkita — Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi (UID) Sumatera Barat (Sumbar) memperkuat usaha budi daya ikan masyarakat di Hulu Banda, Jorong I Siguhung, Nagari Lubuk Basung, Kecamatan Lubuk Basung, Agam.
Melalui program tersebut, kapasitas bibit Kelompok Budi Daya Ikan Insya Allah Maju yang sebelumnya sekitar 10 ribu ekor dalam satu kolam meningkat menjadi 60 ribu ekor. Program itu resmi diperkuat melalui peresmian di lokasi kelompok pada Selasa (8/9).
Kegiatan tersebut dihadiri Staf Ahli Bidang SDM Agam, Taslim; Senior Manager Keuangan, Komunikasi dan Umum PLN UID Sumbar, Bambang Santoso; Manager UP3 Bukittinggi Munawir Liling, beserta jajaran; serta Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Agam, Rosva Deswita.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Agam mengapresiasi dukungan PLN yang dinilai hadir menjawab kebutuhan masyarakat di sektor budi daya ikan. Kolaborasi tersebut dinilai penting untuk memperkuat usaha masyarakat yang telah berjalan sekaligus membuka ruang peningkatan produktivitas dan kemandirian ekonomi di tingkat lokal.
Hulu Banda merupakan salah satu wilayah yang menjadi sentra budi daya ikan air tawar di Kecamatan Lubuk Basung. Namun, kelompok budi daya di sana masih menghadapi kendala permodalan, terutama untuk pengadaan benih dan pakan. Keterbatasan modal membuat sebagian anggota masih bergantung pada pihak ketiga dengan sistem pembayaran setelah panen dan pola bagi hasil. Kondisi tersebut menjadi salah satu kebutuhan yang diperkuat melalui Program TJSL PLN.
Dukungan PLN melanjutkan usaha yang telah dibangun masyarakat, bukan memulai dari awal. Program tersebut diarahkan untuk memperkuat kapasitas budi daya agar potensi, pengalaman, dan kemampuan kelompok dapat terus berkembang.
General Manager PLN UID Sumbar, Ririn Rachmawardini, mengatakan bahwa dukungan tersebut diberikan untuk memperkuat usaha yang telah diperjuangkan masyarakat.
“Kami melihat masyarakat sudah memiliki semangat, pengalaman, dan potensi untuk mengembangkan usaha. Dukungan PLN kami hadirkan untuk memperkuat apa yang sudah mereka perjuangkan sehingga kapasitas usaha dapat meningkat dan manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarakat,” ujar Ririn.
Penguatan kapasitas dilakukan dengan meningkatkan jumlah benih dari sekitar 10 ribu menjadi 60 ribu ekor dalam satu kolam. Kelompok juga menjalankan pola panen dua kali dalam setahun. Pengembangan dilakukan pada empat kolam berukuran masing-masing 400 meter persegi. Masa pemeliharaan sekitar enam bulan dengan proyeksi hasil mencapai 7.500 kilogram per siklus.
Hasil budi daya kelompok selama ini dipasarkan ke sejumlah daerah, antara lain Bukittinggi, Pekanbaru, Padang, Jambi, Medan, dan Surolangun.
Selain mengembangkan usaha, kelompok menjalankan kepedulian terhadap lingkungan. Mereka rutin melakukan gotong royong membersihkan kolam dan saluran air, mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan penyentruman atau peracunan ikan, serta menjaga kawasan lubuk larangan.
Ririn berharap dukungan TJSL PLN dapat memberikan manfaat dalam jangka panjang dan tidak berhenti pada satu kegiatan.
“Kami berharap dukungan ini tidak berhenti pada satu kegiatan. Yang paling penting adalah bagaimana masyarakat dapat terus menjaga dan mengembangkan usaha yang dimiliki, sehingga manfaatnya bisa dirasakan dalam jangka panjang,” tutur Ririn.
Program TJSL PLN diarahkan untuk memperkuat usaha yang telah tumbuh di tengah masyarakat sekaligus mendorong mereka agar semakin mampu mengelola dan mengembangkan potensi secara mandiri.
Dengan bertambahnya kapasitas budi daya, peluang peningkatan produksi dan pendapatan keluarga semakin terbuka. Kolam-kolam di Hulu Banda menjadi ruang tumbuh bagi usaha masyarakat sekaligus membuka peluang untuk memperkuat ekonomi keluarga dan menjaga roda ekonomi lokal tetap bergerak.














