PADANG, SUMBARKITA – Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Sumbar meminta rencana pembangunan trase jalan tol Payakumbuh-Pangkalan yang akan berdampak terhadap lima nagari di Kecamatan Payakumbuh dan Kecamatan Harau dialihkan.
Walhi menyarankan pemindahan lokasi tersebut karena apabila pembangunan trase tol tetap dilaksanakan di lokasi yang sudah ditetapkan, akan banyak masyarakat yang bermukim di kawasan itu menjadi korban.
“Seperti yang diketahui bahwa rencana trase tol Payakumbuh-Pangkalan adalah trase yang akan melewati pemukiman padat penduduk,” ungkap Kepala Departemen Advokasi dan Lingkungan Hidup Walhi Sumbar, Tommy Adam, Jumat (2/9/2022).
Menurut Tommy setidaknya ada 300 lebih rumah yang akan terdampak jika pembangunan itu tetap dilakukan.
Lebih lanjut berdasarkan hasil analisis Walhi Sumbar, rencana trase tersebut akan menghancurkan sendi-sendi sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat.
Tommy menilai banyak situs-situs budaya Minangkabau yang akan terdampak seperti tanah ulayat, rumah gadang, surau tuo, hingga pandam kuburan.
“Dari sisi ekonomi, jalan tol tersebut akan merusak lahan lahan produktif masyarakat, antara lain sawah, perladangan cabai, manggis, singkong, durian, kelapa, jengkol, petai, pepaya,” katanya.
“Artinya trase ini akan menghancurkan sendi-sendi sosial, ekonomi dan budaya, ruang hidup dan sumber-sumber penghidupan masyarakat,” lanjutnya.
Sebab demikian, Walhi Sumbar meminta gubernur membentuk tim untuk mengkaji ulang trase yang melalui pemukiman padat dan lahan produktif itu. (*)
Berita Terkait:
- Desak Trase Tol Dialihkan, Warga Limapuluh Kota Khawatir Pembangunan Rusak Lahan Produktif
- Belah Permukiman Padat Penduduk, Masyarakat Limapuluh Kota Desak Pembangunan Trase Tol Dialihkan
Editor: RF Asril














