Oleh : Santa Mareta, SKM, M.Kes
Beberapa waktu lalu, seorang ibu muda datang ke ruang radiologi dengan wajah pucat. Tangannya menggenggam erat jari anaknya yang masih berusia tujuh tahun.
“Bu, jangan lama-lama ya, katanya nanti anak saya bisa mandul kalau difoto rontgen,” ucapnya lirih.
Pernyataan seperti itu bukan hal baru. Hampir setiap hari, tenaga kesehatan di radiologi mendengar mitos serupa. Ada yang percaya sekali difoto bisa merusak organ dalam, ada pula yang menyamakan radiasi medis dengan bahaya bom nuklir. Padahal, ketakutan itu lahir dari cerita tanpa dasar.
Radiologi sejatinya bukan ancaman. Ia adalah “mata” yang membantu dokter melihat lebih dalam, melampaui batas kulit manusia. Melalui rontgen, CT scan, MRI, atau USG, berbagai penyakit dapat terdeteksi lebih cepat—mulai dari tumor seukuran biji kacang hingga retakan tulang halus yang tak terlihat kasat mata.
Mitos Kemandulan dan Fakta Radiasi
Salah satu mitos yang paling sering beredar adalah anggapan bahwa rontgen bisa menyebabkan kemandulan. Faktanya, dosis radiasi pada pemeriksaan radiologi medis sangat kecil dan terkendali.
Sebagai gambaran, satu kali foto rontgen dada setara dengan paparan radiasi alami yang kita terima dari lingkungan hanya dalam beberapa hari. Bahkan, perjalanan pesawat terbang jarak jauh memaparkan tubuh pada radiasi kosmik lebih besar, namun tidak ada yang melarang orang bepergian dengan pesawat.
Prinsip ALARA: Keselamatan Pasien yang Utama
Dalam dunia radiologi, berlaku prinsip dasar ALARA (As Low As Reasonably Achievable). Artinya, paparan radiasi selalu dijaga sekecil mungkin, tetapi cukup untuk menghasilkan gambar yang jelas.
Tidak ada pemeriksaan yang dilakukan sembarangan. Pasien hanya akan difoto bila ada indikasi medis yang jelas. Bahkan pada ibu hamil, prosedur dengan radiasi tertentu sangat dihindari, kecuali dalam kondisi darurat.
Teknologi pun terus berkembang. Mesin CT scan generasi terbaru mampu menghasilkan gambar resolusi tinggi dengan dosis radiasi jauh lebih rendah dibandingkan generasi sebelumnya. Semua itu dilakukan demi keselamatan pasien.
Radiasi Ada di Sekitar Kita
Kata “radiasi” sering terdengar menyeramkan, seolah hanya identik dengan bencana nuklir. Padahal, radiasi ada di sekitar kita setiap hari: sinar matahari, televisi, hingga batuan bumi memancarkan radiasi alami.
Bedanya, dalam radiologi, radiasi dikelola, dikendalikan, dan diarahkan untuk tujuan mulia—menolong pasien.
Bayangkan seorang bapak dengan batuk berkepanjangan. Tanpa rontgen, ia mungkin hanya diberi obat batuk biasa. Namun, hasil foto dada bisa mengungkap adanya tuberkulosis yang harus segera diobati. Dalam kasus lain, seorang anak jatuh saat bermain. Dari luar hanya tampak memar, tapi hasil radiologi menunjukkan retakan tulang yang membutuhkan perhatian serius.
Sahabat, Bukan Ancaman
Ketakutan lahir dari ketidaktahuan. Radiologi bukan penyebab kemandulan, bukan mesin penghancur, dan bukan ancaman. Ia adalah sahabat dokter untuk menemukan kebenaran di balik gejala. Menolak pemeriksaan karena takut mitos justru lebih berbahaya, sebab penyakit bisa tidak terdeteksi hingga terlambat.
Radiografer dan dokter spesialis radiologi dibekali ilmu, keterampilan, dan etika profesional untuk menjaga keselamatan pasien. Tidak ada tindakan medis yang dilakukan tanpa pertimbangan matang.
Membuka Jalan Menuju Harapan
Radiologi bukan sekadar teknologi pencitraan. Ia adalah jendela yang membuka rahasia tubuh, memberi kesempatan untuk menyelamatkan hidup sebelum terlambat.
Daripada hidup dalam bayang-bayang mitos, lebih bijak membuka mata dengan fakta. Radiologi hadir bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk menolong. Ia menghadirkan kejelasan, membuka jalan menuju harapan, dan mengingatkan bahwa deteksi dini adalah kunci untuk sembuh.
Radiologi pada akhirnya bukan tentang bahaya yang ditakuti, melainkan tentang keselamatan yang diraih. Ia bukan momok, melainkan sahabat. Ia bukan ancaman, melainkan penjaga.
Tentang Penulis
Santa Mareta adalah Dosen Radiologi Universitas Baiturrahmah Padang














