Sumbarkita – Presiden RI Prabowo Subianto mengaku diliputi perasaan campur aduk saat berbicara tentang kondisi rakyat Indonesia. Di satu sisi, ia merasa lega karena hasil survei internasional menempatkan rakyat Indonesia sebagai yang paling bahagia di dunia. Namun di sisi lain, Prabowo tak menutupi kesedihannya karena masih banyak warga yang hidup dalam keterbatasan.
“Saya tahu rakyat saya. Banyak dari mereka tinggal di gubuk. Banyak dari mereka tidak punya air bersih. Banyak dari mereka tidak punya kamar mandi. Banyak dari mereka makan nasi dengan garam. Namun mereka tersenyum. Namun mereka punya harapan,” ujar Prabowo saat menyampaikan pidato pada World Economic Forum 2026 di Davos, Kamis (22/1/2026), dikutip dari YouTube Prabowo Subianto, Jumat (23/1/2026).
Prabowo mengaku terkejut ketika mengetahui hasil survei yang dilakukan Gallup bersama Harvard University. Survei tersebut menyebutkan bahwa Indonesia menempati posisi teratas sebagai negara dengan tingkat kebahagiaan masyarakat tertinggi di dunia.
“Beberapa hari yang lalu, saya sendiri terkejut. Gallup Poll dan Universitas Harvard menemukan melalui survei penelitian terhadap ratusan negara bahwa Indonesia, rakyat Indonesia adalah rakyat yang paling bahagia,” kata Prabowo.
Menurut Prabowo, hasil survei itu juga menunjukkan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara yang paling berkembang di dunia, dengan masyarakat yang tetap optimistis di tengah berbagai keterbatasan.
Temuan tersebut, kata Prabowo, menghadirkan rasa lega karena mencerminkan ketangguhan mental dan harapan rakyat Indonesia. Namun, ia menegaskan bahwa kebahagiaan itu tidak boleh menutup mata terhadap realitas kemiskinan dan keterbatasan akses kebutuhan dasar yang masih dialami sebagian warga.
“Di satu sisi saya merasa lega, tetapi di sisi lain saya juga sedih,” ujar Prabowo. Ia kembali menyinggung masih banyak rakyat yang tinggal di gubuk, tidak memiliki akses air bersih, serta hidup dengan makanan sangat sederhana.
Pernyataan itu disampaikan Prabowo sebagai pengingat bahwa tugas negara belum selesai, dan bahwa optimisme rakyat harus dibalas dengan kebijakan nyata untuk meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidup.















