SUMBARKITA.ID — Salah satu pohon terbesar di dunia ternyata berada di Sumatera Barat. Pohon itu berada di hutan rakyat Nagari Koto Malintang, Kecamatan Tanjungraya, Kabupaten Agam.
Pohon raksasa bernama Medang (Litsea Sp) tersebut berdiameter 4,6 meter, lingkaran 14 meter dan tinggi 34 meter berada sekitar satu kilometer dari pemukiman masyarakat setempat. Jika melihat ukuran dan tingginya, pohon medang di Agam ini layak disebut sebagai salah satu pohon terbesar di dunia.
“Ini pohon terbesar yang saya temukan di Sumbar, karena di hutan cagar alam Panti, Kabupaten Pasaman hanya berdiameter 2,5 meter dan tinggi 26 meter dengan jenis meranti. Berkemungkinan kayu medang ini salah satu terbesar di dunia,” kata Ade Putra selaku Pengendali Ekosistem Hutan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumbar.
Selain pohon Medang raksasa, di hutan rakyat Nagari Koto malintang juga terdapat puluhan pohon dengan berdiamater diatas satu meter yang didominasi pohon durian.
Dijelaskan Ade, selain aneka pohon raksasa di lokasi tersebut juga ditemukan beragam satwa dilindungi berupa beruang, kijang, kambing hutan, rangkong dan lainnya. Pihaknya mengapresiasi kearifan lokal dari masyarakat setempat dalam menjaga kondisi hutan, sehingga pohonnya berukuran besar dan kelestararian satwa juga terjaga.
Sementara itu, Wali Nagari Koto Malintang, Naziruddin menambahkan di hutan rakyat dan hutan lindung daerah itu ada enam pohon jenis medang berukuran besar dengan usia sekitar 160 tahun. “Pohon ini kami jaga dan pelihara semenjak ratusan tahun lalu, karena pohon itu penghasil air,” katanya.
Dengan adanya pohon berukuran besar itu maka pihaknya menerima anugerah Kalpataru 2013 kategori penyelamatan lingkungan dari Kementerian Lingkungan Hidup. Anugrah itu langsung diserahkan oleh Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono.
Ke depan, keberadaan kayu itu akan dijadikan destinasi objek wisata minat khusus untuk menambah pendapatan masyarakat sekitar. Sebelumnya pihaknya telah mengajukan pembangunan jalan dengan melelang kayu ke Pemkab Agam semenjak 2012. Namun tidak ada respon dari pemerintah setempat, sehingga lokasi belum bisa di kembangkan.
“Saya menargetkan lokasi itu bakal menjadi destinasi wisata dan saya telah menyediakan lahan sekitar lima hektare di sekitar lokasi itu untuk mendukung target tersebut,” katanya.








