Sumbarkita – Baru-baru ini peristiwa memilukan terjadi di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT). Seorang bocah laki-laki berinisial YBS (10), siswa kelas IV sekolah dasar, ditemukan meninggal dunia dalam kondisi gantung diri pada Kamis (29/1/2026).
Kasus ini menyita perhatian publik setelah muncul informasi bahwa korban diduga mengalami tekanan akibat masalah ekonomi keluarga. YBS disebut sempat meminta buku dan pena, namun keluarganya tidak mampu membelikan karena tidak memiliki uang.
Tak hanya itu, korban juga meninggalkan surat perpisahan sebelum ditemukan tewas.
Kepala Bidang Humas Polda NTT, Kombes Henry Novika Chandra, mengatakan surat tersebut ditulis korban dalam bahasa daerah Ngada dan ditemukan tidak jauh dari lokasi kejadian.
“Artinya kurang lebih ‘selamat tinggal mama’,” ujar Henry, Rabu (4/2/2026).
Isi Surat Minta Ibu Tidak Menangis
Surat perpisahan itu berisi kalimat-kalimat yang menyayat hati. Korban meminta sang ibu tidak menangis dan merelakan kepergiannya.
Di antaranya berbunyi:
“Mama saya pergi dulu.
Mama relakan saya pergi.
Jangan menangis ya mama.
Tidak perlu mama menangis, mencari, atau merindukan saya.
Selamat tinggal mama.”
Ditemukan Tergantung di Pohon Cengkeh
Menurut keterangan kepolisian, jenazah YBS ditemukan oleh seorang kerabat di kebun milik neneknya. Saat ditemukan, korban tergantung pada dahan pohon cengkeh.
Polisi masih mengumpulkan keterangan saksi untuk memastikan secara menyeluruh rangkaian peristiwa yang terjadi pada hari itu.
Kapolda NTT Irjen Rudi Darmoko menyebut dugaan sementara, motif korban mengakhiri hidup berkaitan dengan kondisi ekonomi keluarga.
“Motif utama karena hal itu (ekonomi), namun masih didalami,” kata Rudi.
Pemerintah Pusat Turut Bereaksi
Peristiwa ini juga mendapat perhatian dari pemerintah pusat. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menyampaikan belasungkawa dan menyebut kejadian ini sebagai peringatan serius soal pentingnya pendampingan psikososial terhadap anak.















