Sumbarkita — Pemerintah Kota (Pemko) Payakumbuh memperluas akses literasi masyarakat dengan memperpanjang hari operasional Perpustakaan Umum Daerah hingga akhir pekan. Layanan perpustakaan kini tidak hanya tersedia pada hari kerja, tetapi juga buka untuk pengunjung setiap Sabtu dan Minggu.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Payakumbuh, Erwan, mengatakan kebijakan ini dilakukan untuk menghadirkan layanan publik yang lebih adaptif terhadap perubahan pola aktivitas masyarakat.
“Kami ingin memastikan tidak ada lagi batasan waktu bagi masyarakat untuk mengakses ilmu pengetahuan. Banyak pelajar, mahasiswa, maupun pekerja yang baru memiliki waktu luang di akhir pekan,” katanya.
Sebelumnya, layanan perpustakaan hanya beroperasi dari Senin hingga Jumat. Dengan kebijakan baru ini, jam layanan menjadi lebih fleksibel, yakni Senin–Jumat pukul 08.00–16.00 WIB, serta Sabtu–Minggu pukul 09.00–14.00 WIB.
Selain memperluas akses literasi, perpanjangan jam layanan juga diarahkan untuk mengubah wajah perpustakaan menjadi ruang publik yang ramah keluarga.
Kepala Bidang Perpustakaan, Rudi Arnel, menjelaskan bahwa perpustakaan kini disiapkan sebagai alternatif kegiatan positif di akhir pekan.
“Kami ingin menjadikan perpustakaan sebagai destinasi rekreasi keluarga sekaligus wisata edukasi. Orang tua bisa datang bersama anak-anak untuk belajar, membaca, atau mengikuti kegiatan yang bermanfaat,” ujar Rudi.
Kemudian, untuk mendukung fungsi edukasi sekaligus rekreasi, perpustakaan dilengkapi fasilitas modern, seperti home theater dengan sistem audio visual menyerupai bioskop, serta aula serbaguna yang representatif untuk seminar, perlombaan dalam ruangan, hingga kegiatan sekolah tingkat TK dan SD.
“Dengan fasilitas yang semakin lengkap serta waktu operasional yang diperpanjang hingga akhir pekan, Perpustakaan Umum Daerah Kota Payakumbuh diproyeksikan menjadi pusat aktivitas edukatif dan destinasi wisata literasi baru bagi masyarakat, khususnya pada hari libur,” tuturnya.
Transformasi ini juga mendapat apresiasi dari kalangan mahasiswa. Fadhilla Humaira, mahasiswi Universitas Negeri Padang, menilai perpustakaan kini beralih fungsi menjadi pusat inklusi sosial dan penelitian masyarakat.
“Perpustakaan saat ini bukan lagi sekadar tempat membaca buku, tetapi ruang belajar bersama, pusat penelitian, dan inklusi sosial,” katanya.














