Sumbarkita – Pemerintah Kota Bukittinggi menilai penyelenggaraan peringatan 100 Tahun Jam Gadang yang berlangsung pada 3–21 Juni 2026 berhasil mengangkat citra kota sebagai destinasi wisata berkelas internasional sekaligus memberikan dampak positif terhadap sektor pariwisata dan perekonomian daerah.
Rangkaian kegiatan yang digelar selama hampir tiga pekan itu menghadirkan berbagai agenda berskala nasional dan internasional, mulai dari festival literasi, seminar sejarah, parade budaya, kegiatan olahraga, hingga festival kuliner. Pemerintah Kota Bukittinggi menyebut kegiatan tersebut juga dihadiri ratusan delegasi dari 38 negara.
Wali Kota Bukittinggi, Ramlan Nurmatias mengatakan peringatan satu abad Jam Gadang bukan sekadar merayakan usia bangunan bersejarah tersebut, melainkan menjadi momentum memperkuat identitas Bukittinggi sebagai kota sejarah, budaya, pendidikan, wisata, dan perjuangan.

“Jam Gadang bukan hanya simbol Kota Bukittinggi, tetapi juga saksi perjalanan sejarah bangsa. Melalui momentum satu abad ini, kami ingin memperkuat kesadaran sejarah, memperkenalkan Bukittinggi ke dunia internasional, serta membangun masa depan tanpa melupakan akar budaya dan perjuangan,” kata Ramlan.
Menurutnya, keberhasilan penyelenggaraan berbagai agenda internasional dalam satu rangkaian menunjukkan kesiapan Bukittinggi menjadi destinasi wisata unggulan Indonesia. Pemerintah menilai kemampuan kota dalam mengelola arus wisatawan, logistik, hingga pengamanan tamu dari berbagai negara menjadi indikator meningkatnya kapasitas sektor pariwisata daerah.
Diperkuat Festival Literasi Internasional
Perayaan diawali dengan penyelenggaraan International Minangkabau Literacy Festival (IMLF) ke-4 pada 3–7 Juni 2026. Festival tersebut menghadirkan peserta dan narasumber dari berbagai negara melalui seminar internasional, diskusi kebudayaan, pertunjukan seni, parade budaya, pembacaan puisi dunia, hingga forum diplomasi budaya.

Pemerintah Kota Bukittinggi menilai kegiatan tersebut memperluas jejaring internasional sekaligus memperkenalkan budaya Minangkabau kepada masyarakat dunia.
Dorong Status Kota Perjuangan
Momentum peringatan satu abad Jam Gadang juga dimanfaatkan untuk memperkuat usulan Bukittinggi sebagai Kota Perjuangan. Dalam Seminar Nasional Bukittinggi Kota Perjuangan, sejumlah akademisi dan sejarawan menegaskan pentingnya posisi Bukittinggi dalam sejarah Republik Indonesia, terutama saat menjadi pusat Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) pada masa Agresi Militer Belanda II.
Sejarawan Prof. Anhar Gonggong menyebut Bukittinggi memiliki posisi historis yang unik karena menjadi pusat pemerintahan darurat yang menjaga keberlangsungan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dukungan serupa disampaikan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X dan Menteri Kebudayaan Fadli Zon yang mendorong penguatan identitas Bukittinggi sebagai Kota Perjuangan.
Ribuan Peserta Meriahkan Berbagai Agenda
Berbagai kegiatan mendapat sambutan tinggi dari masyarakat. Sebanyak 1.700 perempuan mengenakan busana Minangkabau dalam parade budaya, sementara International Jam Gadang Fun Run diikuti sekitar 2.000 peserta, melampaui target awal sebanyak 1.500 peserta.
Di bidang seni dan literasi, sebanyak 100 penyair dari berbagai negara membacakan karya mereka di kawasan Jam Gadang. Bukittinggi East Film Festival juga menghadirkan karya perfilman dari sejumlah negara Asia Tenggara.

Selain itu, kegiatan penanaman 1.000 pohon di kawasan Tabiang Barasok digelar sebagai bagian dari kampanye pelestarian lingkungan.
Puncak perayaan ditutup dengan Cultural Night dan Festival Kuliner Tradisional Gratis yang menyajikan lebih dari 41.790 porsi makanan tradisional kepada masyarakat dan wisatawan.
Beri Dampak Ekonomi
Pemerintah Kota Bukittinggi menyebut penyelenggaraan peringatan 100 Tahun Jam Gadang berdampak terhadap peningkatan kunjungan wisatawan selama Juni 2026.

Hotel, homestay, rumah makan, pelaku UMKM, pedagang pasar, jasa transportasi, hingga sektor ekonomi kreatif dilaporkan mengalami peningkatan aktivitas seiring tingginya mobilitas wisatawan.
Festival budaya, olahraga, literasi, serta seminar internasional juga dinilai mampu memperpanjang lama tinggal wisatawan sekaligus memperluas promosi Bukittinggi sebagai destinasi wisata sejarah dan budaya di tingkat nasional maupun internasional.
Ramlan menegaskan pemerintah daerah akan terus menjaga warisan sejarah sekaligus mengembangkan pariwisata berkelanjutan.

“Sejarah bukan untuk dibaca dan dilihat saja, tapi bisa dirasakan oleh penerus kita nanti,” ujarnya.














