Oleh Ruspel Aiga*
MENGAPA masyarakat harus bersungguh-sungguh memilih Wali Nagari? Bukankah siapa pun calon yang terpilih pada akhirnya akan menjalankan roda pemerintahan yang sama? Sejauh mana seorang wali nagari hadir bagi masyarakatnya? Apakah popularitas menjadi indikator kunci keberhasilan memimpin? Pertanyaan di atas tampak sederhana, tetapi sesungguhnya menentukan masa depan sebuah nagari. Kualitas kepemimpinan wali nagari akan menentukan apakah nagari hanya tumbuh dengan bangunan fisik, atau berkembang menjadi masyarakat yang berdaya, berbudaya, dan bermartabat.
Memilih wali nagari sejatinya tidak sekadar memilih sosok yang populer atau memiliki kekuatan politik, tetapi juga memilih pemimpin yang mampu menjadi penggerak perubahan sosial. Nagari sebagai satuan pemerintahan terdekat dengan masyarakat membutuhkan figur yang tidak hanya memahami tata kelola pemerintahan, tetapi juga memiliki visi membangun manusia. Pada konteks itulah filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara menjadi relevan untuk dijadikan lensa dalam menakar kualitas calon wali nagari sebab kepemimpinan yang baik pada hakikatnya merupakan proses mendidik masyarakat menuju kemandirian.
Ki Hajar Dewantara mewariskan filosofi kepemimpinan yang sangat terkenal, yaitu Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Madya Mangun Karso, Tut Wuri Handayani. Filosofi itu tidak hanya berlaku bagi dunia pendidikan, tetapi juga menjadi pedoman universal dalam kepemimpinan publik. Seorang pemimpin harus mampu memberikan teladan di depan, membangun semangat ketika berada di tengah masyarakat, serta memberikan dorongan dan kepercayaan ketika masyarakat telah mampu bergerak sendiri. Filosofi tersebut menjadi fondasi moral bagi setiap calon pemimpin, termasuk calon wali nagari.
Hasil pemilihan wali nagari sering kali masih didominasi oleh pertarungan popularitas, kedekatan emosional, dan janji-janji pembangunan fisik. Diskursus mengenai kapasitas kepemimpinan, kemampuan memberdayakan masyarakat, maupun integritas calon belum menjadi perhatian utama bagi sebagian pemilih. Akibatnya, tidak sedikit kepala pemerintahan nagari yang akhirnya lebih sibuk mengurus administrasi dibandingkan membangun kemandirian masyarakat.
Padahal tantangan nagari dewasa ini semakin kompleks. Persoalan kemiskinan, pengangguran, kualitas pendidikan, pelayanan publik, transformasi digital, hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat memerlukan pemimpin yang adaptif dan visioner. Wali nagari tidak lagi cukup menjadi administrator pemerintahan, tetapi harus mampu menjadi fasilitator, mediator, inovator, sekaligus penggerak kolaborasi. Kepemimpinan seperti itulah yang akan menentukan arah pembangunan nagari dalam jangka panjang.
Dalam perspektif kepemimpinan modern, James MacGregor Burns menjelaskan bahwa pemimpin yang efektif adalah transformational leader, yaitu pemimpin yang mampu mengubah cara berpikir, meningkatkan motivasi, dan menggerakkan masyarakat mencapai tujuan bersama. Kepemimpinan transformasional tidak dibangun melalui kekuasaan semata, melainkan melalui keteladanan, inspirasi, dan kepercayaan. Nilai itu sangat selaras dengan ajaran Ki Hajar Dewantara yang menempatkan teladan sebagai kekuatan utama seorang pemimpin.
John C. Maxwell juga menegaskan bahwa kepemimpinan bukanlah tentang jabatan, melainkan tentang pengaruh (leadership is influence). Seorang Wali Nagari yang memiliki pengaruh positif akan lebih mudah mengajak masyarakat bergotong royong dibandingkan dengan pemimpin yang hanya mengandalkan kewenangan formal. Oleh karena itu, masyarakat perlu menilai apakah calon pemimpin benar-benar memiliki rekam jejak pengabdian, kemampuan berkomunikasi, dan kemauan mendengar aspirasi warga.
Filosofi Ing Ngarso Sung Tulodho mengandung makna bahwa calon wali nagari harus terlebih dahulu menjadi teladan. Integritas, kejujuran, kedisiplinan, dan kesederhanaan tidak dapat digantikan oleh slogan kampanye. Masyarakat lebih membutuhkan pemimpin yang mampu menunjukkan contoh nyata daripada sekadar pandai berbicara. Keteladanan akan melahirkan kepercayaan, sedangkan kepercayaan merupakan modal sosial terbesar dalam pembangunan nagari.














