Oleh: Jaja Zarkasyi*
Belakangan ini, meja diskusi saya semakin sering berbicara tentang satu hal yang kelihatannya sederhana, tetapi ternyata cukup kompleks: data perkawinan. Ya, data ini sangat menarik karena perkawinan merupakan gerbang menuju keluarga.
Pada awalnya, saya mengira persoalannya sederhana: bagaimana kita mendapatkan data perkawinan yang lebih lengkap. Tetapi, semakin sering saya berdiskusi dengan orang-orang yang bekerja di lapangan, pertanyaannya justru semakin berkembang. Semakin saya melihat datanya, semakin saya merasa bahwa yang sedang kita bicarakan sebenarnya bukan angka, melainkan masa depan seseorang.
Pada suatu kesempatan berdiskusi dengan sejumlah peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), saya mendengar kegelisahan tentang perkawinan yang tidak tercatat. Dari percakapan itu saya kemudian berpikir: kalau perkawinannya saja belum seluruhnya kita kenali, bagaimana kita bisa membaca persoalan keluarga secara utuh?
Saya juga berdiskusi dengan Muslimat, Fatayat, Aisyiyah, Nasyiatul Aisyiyah, Perwatt, dan berbagai organisasi lainnya mengenai kemitraan dalam memperkuat ketahanan keluarga. Dari situ saya semakin melihat bahwa data saja tidak cukup. Data harus bertemu dengan jaringan sosial yang memang hidup di tengah masyarakat.
Dalam kesempatan lain, saat Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama di Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, pada Agustus 2026, kami berdiskusi dengan para ustaz dan santri tentang pentingnya dukungan pesantren dalam membangun kesadaran masyarakat mengenai pencatatan perkawinan.
Ditjen Bimas Islam juga membangun kerja sama dengan PT Taspen melalui integrasi data perkawinan. Dari berbagai perjumpaan itu, saya mulai melihat satu hal: data perkawinan bukan sekadar angka. Ia adalah pintu untuk memahami kehidupan keluarga kita.
Lalu muncul pertanyaan berikutnya: sebenarnya, pada usia berapa mereka menikah?
Membaca Fenomena dari Data
Pertanyaan itu penting karena sebelum membahas fenomena kawin anak, kita perlu memastikan terlebih dahulu apa yang sebenarnya sedang kita bicarakan.













