Rabu, 22 April 2026
Sumbarkita.id
Tidak Ada
Lihat Semua Hasil
  • Home
  • Zona Sumbar
  • Peristiwa
  • Hukum & Kriminal
  • Politik
  • Pesona Sumbar
  • Zona Viral
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Home
  • Zona Sumbar
  • Peristiwa
  • Hukum & Kriminal
  • Politik
  • Pesona Sumbar
  • Zona Viral
  • Pendidikan
  • Kesehatan
Sumbarkita.id
Tidak Ada
Lihat Semua Hasil
  • Home
  • Zona Sumbar
  • Peristiwa
  • Hukum & Kriminal
  • Politik
  • Pesona Sumbar
  • Zona Viral
  • Pendidikan
  • Kesehatan
Home Artikel & Opini

Logika Perang, Kemanusiaan pun Jadi Korban

RedaksiOleh : Redaksi
Kamis, 02 April 2026 | 08:10 WIB
in Artikel & Opini
Foto: Ilustrasi AI

Foto: Ilustrasi AI


Penulis: Dr. Hendrizal, S.IP., M.Pd.

Sumbarkita – Di tengah hiruk-pikuk geopolitik global, perang kerap tampil sebagai panggung pembenaran: negara merasa berhak menyerang atas nama keamanan, dan kekuatan militer diposisikan sebagai solusi atas ketegangan. Namun, konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat dalam beberapa waktu terakhir kembali mengingatkan kita pada satu kenyataan yang berulang bahwa di balik setiap klaim strategis, kemanusiaan sering kali menjadi korban yang paling sunyi.

Dalam eskalasi yang berlangsung cepat sejak awal 2026, ribuan korban jiwa telah berjatuhan. Berbagai laporan menunjukkan angka kematian menembus kisaran lebih dari dua hingga tiga ribu orang, dengan proporsi signifikan berasal dari kalangan sipil, termasuk perempuan dan anak-anak. Di Iran, serangan udara dilaporkan mengenai kawasan yang tidak sepenuhnya berkaitan dengan instalasi militer. Di sisi lain, wilayah Israel juga mengalami serangan balasan yang menimbulkan korban serta kerusakan infrastruktur sipil. Dalam situasi seperti ini, garis pemisah antara target militer dan warga sipil menjadi kian kabur.

Kondisi tersebut menegaskan bahwa dalam praktiknya, perang modern tidak sepenuhnya tunduk pada prinsip-prinsip hukum humaniter internasional. Secara normatif, hukum perang melarang serangan terhadap non-kombatan dan menuntut proporsionalitas dalam penggunaan kekuatan. Namun dalam realitas, kepentingan strategis kerap menggeser pertimbangan etis. Ketika ancaman dipersepsikan sebagai eksistensial, hampir semua tindakan dapat dengan mudah dibenarkan.

Konflik ini juga memperlihatkan dimensi baru dalam peperangan kontemporer. Tidak hanya instalasi militer konvensional yang menjadi sasaran, tetapi juga infrastruktur strategis seperti pusat energi dan bahkan sistem digital. Serangan terhadap fasilitas energi di kawasan Teluk berimplikasi langsung pada distribusi global minyak dan gas. Sementara itu, meningkatnya ketegangan di jalur pelayaran vital seperti Selat Hormuz memperbesar risiko gangguan pasokan energi dunia.

BACAJUGA

Kadri Mohamad, Advokat dan Musisi yang Mengenalkan Minang lewat Nada

SNBP: Kursi yang Dikunci, Pilihan yang Dipaksa

Dampaknya segera terasa pada tataran global. Harga minyak dan gas mengalami lonjakan, diikuti tekanan inflasi di berbagai negara. Sejumlah lembaga ekonomi internasional memperingatkan bahwa konflik ini berpotensi memperlambat pertumbuhan ekonomi global. Negara-negara yang secara geografis jauh dari kawasan konflik pun tidak luput dari dampak, terutama melalui kenaikan harga energi dan bahan pangan. Dalam konteks ini, perang sekali lagi menunjukkan sifatnya yang tidak mengenal batas: ia menjalar melampaui wilayah tempur dan memengaruhi kehidupan masyarakat luas.

Namun, di balik konsekuensi ekonomi dan politik tersebut, persoalan yang lebih mendasar adalah bagaimana narasi tentang perang dibangun dan disebarkan. Setiap pihak berupaya membingkai tindakan mereka sebagai langkah defensif atau preventif. Media dan aktor politik, secara sadar atau tidak, turut memperkuat polarisasi tersebut. Akibatnya, ruang bagi empati kian menyempit. Korban sipil sering kali hanya menjadi angka, bukan cerita kemanusiaan yang layak mendapat perhatian setara.

Di sinilah letak tantangan moral kita sebagai komunitas global. Ketika informasi disajikan dalam kerangka kepentingan, kemampuan publik untuk melihat penderitaan secara utuh menjadi terganggu. Kita cenderung memihak, bukan memahami; menilai, bukan merasakan. Padahal, inti dari kemanusiaan justru terletak pada kemampuan untuk mengakui penderitaan tanpa syarat.

Pelajaran penting dari konflik ini adalah perlunya meninjau ulang cara kita memaknai keamanan. Selama ini, keamanan sering diidentikkan dengan superioritas militer dan kemampuan deterensi. Negara berlomba memperkuat persenjataan dengan asumsi bahwa kekuatan akan mencegah konflik. Namun pengalaman menunjukkan bahwa logika tersebut tidak selalu berhasil. Alih-alih mencegah perang, akumulasi kekuatan justru dapat meningkatkan ketegangan dan memperbesar potensi eskalasi.

Keamanan yang berkelanjutan seharusnya tidak semata-mata bertumpu pada kekuatan militer, melainkan juga pada kepercayaan, kerja sama, dan penghormatan terhadap hukum internasional. Dalam konteks ini, diplomasi memainkan peran yang tidak tergantikan. Sayangnya, upaya diplomatik sering kali terhambat oleh ketidakpercayaan dan kepentingan domestik masing-masing negara. Ketika jalur dialog melemah, ruang bagi konfrontasi menjadi semakin terbuka.

Selain itu, konflik ini juga menegaskan pentingnya peran lembaga internasional dalam menjaga stabilitas global. Namun efektivitas lembaga-lembaga tersebut kerap dipertanyakan, terutama ketika berhadapan dengan kepentingan negara-negara besar. Ketidakseimbangan kekuatan dalam sistem internasional membuat penegakan norma menjadi tidak konsisten. Dalam situasi tertentu, hukum dapat ditegakkan dengan tegas; dalam situasi lain, ia menjadi lentur.

Bagi negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, dinamika ini memberikan pelajaran strategis sekaligus moral. Secara strategis, ketergantungan terhadap stabilitas global menuntut kewaspadaan terhadap dampak eksternal, khususnya di bidang ekonomi dan energi. Secara moral, pengalaman ini mengingatkan pentingnya menjaga komitmen terhadap nilai-nilai kemanusiaan dalam setiap kebijakan luar negeri.

Pada akhirnya, perang Iran–Israel–Amerika Serikat bukan sekadar konflik antarnegara, melainkan cermin dari kondisi dunia saat ini. Dunia yang semakin maju secara teknologi, tetapi masih menghadapi keterbatasan dalam mengelola perbedaan secara damai. Dunia yang mampu memproduksi kekuatan destruktif dalam skala besar, tetapi belum sepenuhnya mampu membangun mekanisme perdamaian yang efektif.

Dalam situasi seperti ini, pertanyaan yang patut diajukan bukanlah siapa yang akan keluar sebagai pemenang, melainkan apa yang tersisa setelah konflik mereda. Jika yang tertinggal adalah kehancuran, trauma, dan ketidakpercayaan, maka kemenangan apa pun menjadi kehilangan makna.

Kemanusiaan tidak seharusnya menjadi variabel yang dikorbankan dalam perhitungan geopolitik. Ia justru harus menjadi dasar dari setiap keputusan yang diambil. Tanpa itu, dunia akan terus mengulang siklus yang sama: konflik, kehancuran, dan penyesalan.

Mungkin inilah saatnya bagi komunitas global untuk menegaskan kembali bahwa kepentingan tidak boleh mengubur kemanusiaan. Sebab ketika nilai-nilai kemanusiaan dikesampingkan, yang hilang bukan hanya nyawa, tetapi juga martabat kita sebagai manusia.

Dr. Hendrizal, S.IP., M.Pd. adalah dosen pascasarjana Prodi S2 Pendidikan Dasar-PGSD FKIP Universitas Bung Hatta (UBH) Padang; Ketua FIS Pulau Panjang Pasbar.


TOPIK diplomasi internasionalenergi duniageopolitikhukum humaniter internasionalinflasi globalkemanusiaankonflik Iran Israel Amerikakrisis globalperang global

Baca Juga

Kadri Mohamad, Advokat dan Musisi yang Mengenalkan Minang lewat Nada

Kadri Mohamad, Advokat dan Musisi yang Mengenalkan Minang lewat Nada

Kamis, 16 April 2026 | 12:35 WIB
Di Balik Layar Biru SNBP Penerimaan Mahasiswa Baru

SNBP: Kursi yang Dikunci, Pilihan yang Dipaksa

Sabtu, 04 April 2026 | 10:15 WIB
Di Balik Layar Biru SNBP Penerimaan Mahasiswa Baru

Di Balik Layar Biru SNBP Penerimaan Mahasiswa Baru

Kamis, 02 April 2026 | 19:57 WIB
Resiliensi Guru dan Masa Depan Pendidikan

PP Tunas dan Uji Nyali Negara

Senin, 30 Maret 2026 | 20:02 WIB
“Hilang Bukan Tanggung Jawab Kami”, Kalimat Lepas Tanggung Jawab Pengelola Parkir

“Hilang Bukan Tanggung Jawab Kami”, Kalimat Lepas Tanggung Jawab Pengelola Parkir

Senin, 30 Maret 2026 | 17:33 WIB
Anak-anak Kini Sudah Dikepung Algoritma

Anak-anak Kini Sudah Dikepung Algoritma

Senin, 30 Maret 2026 | 16:00 WIB
Leave Comment

#TERPOPULER

  • Mobil Tabrak 3 Motor di Jalan Agam—Pasaman Barat, Perempuan 22 Tahun Tewas

    Mobil Tabrak 3 Motor di Jalan Agam—Pasaman Barat, Perempuan 22 Tahun Tewas

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kasus Petani yang Tembak Peburu Babi di Padang Pariaman Segera Dilimpahkan ke Kejaksaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Adik Kakak di Padang Pariaman Setubuhi Siswi SMP, Korban Sudah Melahirkan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Beli Pulau di Pesisir Selatan, Investor Bangun Objek Wisata Pantai, Ada Kelenteng

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Innalillahi, Mahasiswi UNP Tewas Kecelakaan di Jalan Agam–Pasaman Barat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Terkini

Polisi Tangkap Pengedar Sabu-Sabu di Agam, 45 Paket Barang Bukti Disita

Polisi Tangkap Pengedar Sabu-Sabu di Agam, 45 Paket Barang Bukti Disita

Rabu, 22 April 2026 | 09:27 WIB
DWP Solok Selatan Luncurkan Baju Kurung Bermotif Rumah Gadang

DWP Solok Selatan Luncurkan Baju Kurung Bermotif Rumah Gadang

Rabu, 22 April 2026 | 09:02 WIB
Sepasang Kekasih Digerebek di Kamar Kos di Padang, Satu Orang Sempat Kabur

Sepasang Kekasih Digerebek di Kamar Kos di Padang, Satu Orang Sempat Kabur

Rabu, 22 April 2026 | 08:49 WIB
Bupati Padang Pariaman Lantik Pj Sekda, Tekankan Penguatan Kinerja OPD

Bupati Padang Pariaman Lantik Pj Sekda, Tekankan Penguatan Kinerja OPD

Rabu, 22 April 2026 | 07:58 WIB
Pemkab Solok Selatan Seleksi 64 Guru Tahfidz untuk Perkuat Program Rumah Tahfidz

Pemkab Solok Selatan Seleksi 64 Guru Tahfidz untuk Perkuat Program Rumah Tahfidz

Rabu, 22 April 2026 | 07:45 WIB
Next Post
Polemik Kebutaan Pasien di Pariaman Berujung Dugaan Perusakan Fasilitas Klinik Gigi

Polemik Kebutaan Pasien di Pariaman Berujung Dugaan Perusakan Fasilitas Klinik Gigi

Icon SK White 2__

Informasi

  • Redaksi & Perusahaan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Privacy Policy

Berita

  • Zona Sumbar
  • Zona Viral
  • Hukum & Kriminal
  • Peristiwa
  • Pesona Sumbar
  • Pendidikan
  • Politik
  • Gaya Hidup
  • Ekonomi & Bisnis

Alamat

Jl. Jihad Raya No.60, Kubu Dalam Parak Karakah, Kec. Padang Timur, Kota Padang, Sumatera Barat
Phone (0751) 4773713
email:
redaksi@sumbarkita.id

©2026 sumbarkita.id. All right reserved

Icon SK White 2__

Follow Us

Berita

  • Zona Sumbar
  • Zona Viral
  • Hukum & Kriminal
  • Peristiwa
  • Pesona Sumbar
  • Pendidikan
  • Politik
  • Gaya Hidup
  • Ekonomi & Bisnis
  • Redaksi & Perusahaan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Privacy Policy

©2026 sumbarkita.id. All right reserved

Tidak Ada
Lihat Semua Hasil
  • Zona Sumbar
    • Kabupaten Dharmasraya
    • Kabupaten Limapuluh Kota
    • Kabupaten Padang Pariaman
    • Kabupaten Pasaman Barat
    • Kabupaten Pesisir Selatan
    • Kabupaten Sijunjung
    • Kabupaten Solok
    • Kabupaten Solok Selatan
    • Kota Bukittinggi
    • Kota Padang
    • Kota Padang Panjang
    • Kota Pariaman
    • Kota Payakumbuh
    • Kota Solok
  • Advertorial
  • Artikel & Opini
  • Bank Nagari
  • DPRD Dharmasraya
  • DPRD Padang
  • DPRD Pasaman Barat
  • DPRD Sumatra Barat
  • Ekonomi & Bisnis
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
  • Hukum & Kriminal
  • Info Loker
  • Internasional
  • Kesehatan
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • PDAM Payakumbuh
  • Pemilu
  • Pendidikan
  • Peristiwa
  • Pesona Sumbar
  • Pilkada
  • PLN
  • Politik
  • PT Semen Padang
  • Sumbar Flashback
  • Tekno
  • Zona Riau
  • Zona Viral

© Copyright 2025Sumbarkita.id