Sumbarkita – Ketegangan antara Israel dan Iran kembali memuncak dan mencapai level paling mematikan dalam beberapa tahun terakhir. Pada Minggu, 15 Juni 2025, Israel melancarkan serangan udara besar-besaran ke Teheran, menyasar langsung Kementerian Pertahanan Iran dan sejumlah fasilitas nuklir strategis.
Sebagai balasan, Iran menembakkan puluhan rudal balistik ke kota-kota di Israel sejak Jumat (13/6) hingga Minggu dini hari. Serangan tersebut menewaskan sedikitnya delapan warga sipil, termasuk seorang anak berusia 10 tahun dan dua perempuan lanjut usia. Lebih dari 300 orang dilaporkan luka-luka.
“Teheran sedang terbakar,” ujar Menteri Pertahanan Israel Israel Katz dalam pernyataan singkat di media sosial, mencerminkan skala serangan yang dilakukan pasukan Israel terhadap jantung pertahanan Iran.
Israel mengklaim serangan tersebut sebagai langkah sistematis untuk melemahkan program nuklir Iran yang dianggap mengancam eksistensi negara Yahudi tersebut. Jet tempur Israel menghantam fasilitas pengayaan uranium di Natanz dan Isfahan, menghancurkan pusat-pusat penelitian dan beberapa instalasi militer di Iran barat.
Gambar satelit yang dianalisis oleh Associated Press menunjukkan kerusakan parah di area permukaan fasilitas Natanz, termasuk pemasok daya untuk sentrifugal bawah tanah.
Rafael Grossi, Kepala Badan Energi Atom Internasional (IAEA), mengkonfirmasi kepada Dewan Keamanan PBB bahwa bagian atas fasilitas hancur total dan hilangnya aliran listrik bisa berdampak serius terhadap struktur bawah tanah.
“Perbaikan akan memakan waktu beberapa minggu, bahkan bulan,” ujar seorang pejabat militer Israel yang tak ingin disebutkan namanya.
Lebih jauh, Israel mengklaim telah menewaskan tiga tokoh penting dalam tubuh Garda Revolusi Iran yakni Jenderal Mohammad Bagheri, Hossein Salami, dan Amir Ali Hajizade. Mereka adalah tokoh-tokoh yang selama ini dikenal sebagai otak di balik pengembangan rudal Iran.
Iran Balas Serang, Rudal Sasar Infrastruktur Sipil dan Militer
Dalam respons cepat, Garda Revolusi Iran meluncurkan gelombang rudal ke sejumlah kota Israel, mengklaim bahwa mereka menyasar fasilitas produksi bahan bakar jet tempur. Namun, hingga kini belum ada konfirmasi dari pemerintah Israel terkait dampak serangan itu terhadap infrastruktur militer.














