Sumbarkita — Ketua DPRD Sumatera Barat, Muhidi, mengajak seluruh elemen memperkuat kolaborasi untuk mewujudkan sekolah ramah anak sebagai bagian dari upaya menyiapkan generasi masa depan yang berkualitas dan berdaya saing.
Ajakan tersebut disampaikan Muhidi saat menghadiri Pelatihan Konvensi Hak Anak (KHA) yang digelar untuk mendukung terwujudnya sekolah ramah anak melalui sinergi berbagai pihak pada Kamis (11/6/2026).
Menurut Muhidi, pembangunan sumber daya manusia membutuhkan perhatian yang sama besar dengan pembangunan fisik. Ia menilai hasil pembangunan fisik dapat terlihat dalam waktu relatif singkat, sedangkan pembentukan karakter dan kualitas generasi memerlukan proses yang panjang dan keterlibatan banyak pihak.

“Kalau fisik sekali dibangun bisa selesai. Tetapi membangun SDM membutuhkan keterlibatan semua pihak dengan harapan dan visi yang sama,” ujarnya.
Muhidi mengatakan bahwa DPRD Sumbar memiliki perhatian besar terhadap isu anak, pendidikan, dan pengembangan sumber daya manusia. Karena itu, berbagai kebijakan yang mendukung perlindungan dan pemenuhan hak anak terus diperkuat.
Salah satu bentuk dukungan tersebut diwujudkan melalui regulasi, termasuk Peraturan Daerah Nomor 7 Tahun 2021 tentang penyelenggaraan urusan pemerintahan bidang pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak.

Selain regulasi, DPRD Sumbar juga memberikan dukungan melalui penganggaran strategis untuk program perlindungan anak dan pelaksanaan pelatihan Konvensi Hak Anak. Lembaga legislatif itu juga mendorong lahirnya berbagai kebijakan yang mendukung terwujudnya kabupaten dan kota layak anak di seluruh wilayah Sumatera Barat.
Muhidi menyebut bahwa fungsi pengawasan juga terus dijalankan melalui rapat kerja bersama organisasi perangkat daerah dan kunjungan lapangan guna memastikan program-program yang dijalankan benar-benar memberikan manfaat bagi anak.
Ia menilai pelatihan yang diikuti kepala sekolah dan guru tersebut menjadi langkah penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan bebas dari perundungan.

“Kita ingin anak-anak merasa nyaman di sekolah, belajar tanpa rasa takut, tanpa bullying, sehingga mereka bisa berkembang sesuai potensi yang dimiliki,” katanya.
Muhidi menjelaskan bahwa tumbuh kembang anak dipengaruhi oleh tiga lingkungan utama, yakni keluarga, sekolah, dan masyarakat. Karena itu, menurutnya, seluruh elemen harus bergerak bersama membangun ekosistem yang mendukung perkembangan anak.

Ia juga mengingatkan pentingnya empat pilar utama dalam menyiapkan generasi masa depan, yakni iman sebagai pondasi, akhlak sebagai penuntun, kasih sayang sebagai pengikat, dan ilmu pengetahuan sebagai bekal kehidupan.
Selain itu, penguatan budaya literasi dinilai menjadi salah satu kunci untuk membentuk generasi yang cerdas dan berdaya saing. Oleh sebab itu, berbagai program yang mendorong budaya membaca perlu terus diperkuat sejak usia dini.
“Jika sekolah siap, orang tua siap, masyarakat siap, dan pemerintah daerah memberikan dukungan, insyaallah anak-anak kita akan tumbuh menjadi generasi yang hebat. Nasib Sumatera Barat 20 hingga 30 tahun ke depan sangat ditentukan oleh bagaimana kita menyiapkan generasi hari ini,” tutupnya.














