“Jembatan-jembatan ini adalah penghubung vital antarwilayah. Banyak di antaranya nyaris hanyut atau putus total,” ucap Emri.
Kerusakan pada jembatan ini dinilai sebagai ancaman serius terhadap pergerakan logistik dan akses bantuan. Termasuk Jembatan Koto Buruak, Lubuak Napa, Lansano Kubaan, Sungai Sirah, hingga Jembatan PLTA Singkarak Asam Pulau.
“Jika jembatan-jembatan ini tidak segera diperbaiki, proses pemulihan akan terhambat,” tambahnya.
Tidak hanya jalan dan jembatan, bencana juga merusak dua fasilitas pendidikan, yakni SDN 10 Batang Gasan dan SDN 05 Batang Anai. Bangunan sekolah tertimpa material longsor, menyisakan kekhawatiran bagi proses belajar mengajar.
“Pendidikan anak-anak kita tidak boleh berhenti. Kami berkoordinasi dengan dinas terkait untuk langkah cepatnya,” ungkap Emri.
Infrastruktur penahan air juga ikut terdampak. Talud banda di Korong Toboh, Nagari Campago Selatan, dilaporkan amblas, memperbesar potensi risiko banjir susulan jika hujan kembali turun.
“Kerusakan talud ini meningkatkan kerentanan kawasan. Segera harus diperbaiki untuk mencegah ancaman lanjutan,” jelasnya.
Sementara itu, 24 unit saluran irigasi rusak parah, mulai dari saluran irigasi Bandar Lambeh Sungai Geringging, Kampung Sagik, Kampung Tanjung Sikucua, Ampang Baleri dan Sungai Karuah. Kemudian petani di sejumlah wilayah kini terancam gagal panen akibat saluran air yang terputus.
“Kerusakan irigasi berarti ancaman bagi ketahanan pangan lokal. Ini bukan isu kecil,” tegas Emri.
Kemudian bendungan Lubuak Sikoci turut rusak diterjang derasnya arus air. Kerusakan ini menambah panjang daftar infrastruktur vital yang harus segera mendapat penanganan.
“Bendungan adalah pengatur air untuk ribuan warga. Tanpa fungsi optimal, risiko banjir dan kekeringan bisa meningkat,” katanya.













