Sumbarkita – Kabut asap menyelimuti sejumlah wilayah di Kota Padang, Sumatera Barat, dalam beberapa hari terakhir hingga menyebabkan jarak pandang menurun dan mengganggu aktivitas warga.
Menanggapi kondisi tersebut, Ketua DPRD Padang, Muharlion, meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan saat beraktivitas di luar rumah.
“Masyarakat kita imbau untuk tetap berhati-hati saat keluar rumah dan sebaiknya menggunakan masker jika kondisi udara semakin memburuk demi menjaga kesehatan,” ujarnya kepada Sumbarkita, Kamis (13/8/2026).
Ia juga mendesak Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Padang segera merilis data resmi terkait kualitas udara terkini. Menurutnya, informasi tersebut diperlukan agar masyarakat memperoleh kepastian mengenai kondisi udara di Kota Padang.
“Dinas Lingkungan Hidup harus secepatnya mengeluarkan data resmi mengenai kondisi kualitas udara agar masyarakat mendapatkan informasi yang akurat,” ujarnya.
Ia mengatakan, apabila fenomena kabut terus berlanjut, DLH bersama BMKG perlu segera melakukan koordinasi intensif untuk membahas penanganan teknis di lapangan. Salah satu langkah yang disebutnya perlu dikaji adalah opsi operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) atau hujan buatan untuk meredam kepekatan kabut.
“Jika kondisi kabut ini berlarut-larut, DLH dan BMKG harus berkoordinasi mengkaji opsi hujan buatan guna membersihkan partikel kabut di udara,” ujarnya.
Selain upaya teknis cuaca, Muharlion juga mendukung usulan para pengamat agar Pemerintah Kota maupun Pemerintah Provinsi melakukan pemetaan ruang berbasis tingkat risiko. Menurutnya, integrasi data dari DLH dan BMKG penting untuk mengidentifikasi area mana saja yang memiliki kepekatan kabut paling tinggi di wilayah Padang.
“Data dari DLH dan BMKG sangat penting untuk memetakan area yang paling parah terdampak sebelum pemerintah mengambil tindakan pemulihan yang tepat,” tuturnya.
Muharlion juga meminta aparat penegak hukum dan instansi terkait menindak tegas siapa saja yang melakukan pembakaran lahan secara sembarangan.
“Pemerintah dan aparat harus bertindak tegas terhadap pelaku pembakaran sampah maupun lahan lokal karena tindakan itu makin memperburuk kualitas udara kita,” imbuhnya.
Sebelumnya diberitakan, warga Kota Padang mengeluhkan kondisi udara berkabut yang menyelimuti wilayah tersebut dalam beberapa hari terakhir. Kondisi itu menyebabkan penurunan jarak pandang mendatar sekaligus pemburukan kualitas udara.
Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Kelas II Minangkabau, Edolatama Febrinal, mengonfirmasi fenomena tersebut berdasarkan pemantauan alat meteorologi pada Rabu (12/8/2026) malam.
Edolatama menjelaskan, penurunan jarak pandang mendatar di sejumlah wilayah Sumatera Barat disertai pergeseran status kualitas udara dari kategori baik menjadi sedang berdasarkan indikator PM2.5.
“Beberapa hari belakangan ini memang terpantau terjadi penurunan jarak pandang mendatar di sebagian wilayah Sumatera Barat yang diiringi penurunan kualitas udara,” ujar Edolatama kepada Sumbarkita.
Berdasarkan analisis citra satelit polar hotspot, BMKG mendeteksi sejumlah titik panas dengan tingkat kepercayaan sedang di Sumatera Barat. Namun, berdasarkan pantauan citra satelit dengan metode RGB, BMKG tidak melihat adanya sebaran asap berukuran besar yang muncul secara langsung di Sumatera Barat.
BMKG menganalisis partikel kering mikroskopis berupa asap terbawa angin dari wilayah provinsi tetangga menuju Sumatera Barat.
“Kondisi berkabut terjadi karena terdapat partikel kering mikroskopis berupa asap yang terbawa angin ke Sumatera Barat dari wilayah sekitarnya,” tutur Edolatama.
Wilayah tetangga yang tercatat memiliki titik panas dan sebaran asap signifikan berdasarkan pantauan satelit, kata Edolatama, antara lain Riau, Jambi dan Sumatera Selatan.
Selain pergerakan angin antarwilayah, BMKG juga mengidentifikasi aktivitas pembakaran lokal sebagai salah satu faktor yang dapat berkontribusi terhadap akumulasi asap di udara.
“Pembakaran lahan skala kecil di beberapa tempat menghasilkan asap yang belum terdeteksi satelit. Namun, akumulasinya menurunkan jarak pandang,” ucap Edolatama.
Ia mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran lahan secara sembarangan guna mencegah kondisi kualitas udara semakin memburuk.
Warga juga diminta memantau pembaruan informasi cuaca resmi dan mengantisipasi dampak penurunan kualitas udara ketika beraktivitas di luar ruangan.














