Sumbarkita – Hujan deras yang mengguyur wilayah Kabupaten Padang Pariaman sejak Kamis (5/3/2026) sore mengakibatkan Sungai Batang Anai meluap. Akibatnya, jembatan darurat yang menghubungkan Kayu Tanam dengan Nagari Anduriang, Kecamatan 2×11 Kayu Tanam, hanyut terbawa arus deras.
Jembatan Rajang Sipinang, yang merupakan jembatan utama, sebelumnya telah runtuh dan putus total akibat bencana galodo pada November 2025. Jembatan darurat yang dibangun untuk menggantikan fungsi jembatan utama menjadi jalur vital bagi ribuan warga untuk beraktivitas sehari-hari. Hanyutnya jembatan ini membuat mobilitas warga kembali lumpuh total.
Jembatan tersebut merupakan jalur utama bagi ribuan warga untuk beraktivitas sehari-hari. Hanyutnya jembatan darurat ini membuat mobilitas warga kembali lumpuh total.
Ketua Aksi Solidaritas Piaman Laweh (Aspila), Azwar Anas, menjelaskan bahwa jembatan darurat yang dibangun secara gotong royong oleh relawan Aspila, TNI, dan masyarakat tidak kuat menahan hantaman debit air yang meningkat drastis.
“Benar, jembatan darurat yang sempat kita bangun beberapa waktu lalu, kemarin sekitar pukul 17.00 WIB kembali hanyut diterjang banjir bah. Arusnya sangat deras, material seperti batu dan kayu juga datang menerjang, struktur darurat tidak mampu bertahan,” ujar Azwar Anas, Jumat (6/3).
Azwar menambahkan, kondisi ini sangat memprihatinkan karena jembatan tersebut adalah akses tercepat warga.
“Kami sangat berharap ada percepatan pembangunan jembatan permanen atau minimal jembatan Bailey dari pemerintah agar ekonomi warga tidak terus tercekik karena akses yang putus nyambung seperti ini,” tegasnya
Salah seorang warga, Andri Yanuar, menyampaikan keluhannya. Ia terpaksa menempuh jalur memutar yang lebih jauh atau menggunakan rakit drum darurat untuk menyeberang.










