Sumbarkita – Hilal Ramadan 1447 Hijriah tidak terlihat di Sumatera Barat pada Selasa, 17 Februari 2026. Pantauan di Masjid Al Hakim, Pantai Padang menunjukkan posisi hilal minus 1 derajat, sehingga secara astronomi berada di bawah ufuk dan mustahil diamati mata telanjang.
Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Padang Panjang, Suaidi Ahadi, mengatakan sejak 2022, hilal hanya sekali terlihat secara kasat mata di Sumbar, tepatnya di Pantai Gondariah dengan ketinggian sekitar 9 derajat. Empat tahun terakhir, pengamatan rutin selalu gagal karena faktor cuaca dan posisi geografis wilayah yang berada di garis khatulistiwa.
Menurutnya, tidak teramatinya hilal dalam beberapa tahun terakhir dipengaruhi oleh posisi geografis Sumbar yang berada di garis khatulistiwa. Lintang wilayah di angka 0 derajat berdampak pada tingginya pertumbuhan awan.
Dia menjelaskan awan-awan kerap berkumpul akibat gaya koriolis. Kondisi itu menyebabkan langit sering tertutup awan saat momen rukyatul hilal berlangsung. Terdapat periode tertentu ketika kondisi awan relatif lebih terbuka. Namun, waktu tersebut tidak bertepatan dengan momen ramadan.
“Ada awan-awan yang kosong tapi tidak pada saat ramadan seperti pada bulan Juni, Juli. Menunggu hal itu kemungkinan 10 tahun ke depan baru terjadi,” ujarnya kepada Sumbarkita saat ditemui di Masjid AL Hakim.
Ia menambahkan, hilal yang terlihat pada 2022 pun dapat diamati secara kasat mata meski tidak terlalu jelas. Penampakannya disebut hanya menyerupai planet yang berkedip. Sejak momen tersebut, hilal belum kembali teramati di wilayah Sumbar hingga tahun ini.
Hasil Sidang Rukyatul Hilal yang digelar di lokasi yang sama juga tidak mendapati penampakan hilal. Secara astronomi, posisi hilal berada di bawah ufuk.














