Sumbarkita – Harga emas dunia diproyeksikan menembus level US$6.000 per ons pada pekan depan seiring meningkatnya eskalasi konflik Iran dengan Israel dan Amerika Serikat. Pada perdagangan Selasa (3/3/2026), harga emas spot tercatat naik 1,61% ke level US$5.362 per ons.
Dalam sebulan terakhir, harga logam mulia ini telah melonjak 21,45%.
Konflik Timur Tengah Jadi Katalis
Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menilai ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjadi pendorong utama penguatan emas sebagai aset lindung nilai (safe haven).
“Kemungkinan besar perang ini akan terus berlangsung dalam jangka pendek hingga menengah, sehingga berdampak positif terhadap harga emas dunia. Minggu depan US$6.000 kemungkinan tercapai,” ujarnya, Selasa (3/3/2026).
Laporan Reuters menyebut harga emas telah naik lima sesi berturut-turut karena investor memburu aset safe haven di tengah eskalasi perang udara Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.
Harga emas spot sempat menguat 1% ke posisi US$5.377,21 per ons pada pukul 08.22 WIB. Kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman April naik 1,5% menjadi US$5.391,90.
Analis pasar utama KCM Trade, Tim Waterer, mengatakan ketidakpastian durasi dan cakupan konflik membuat emas menyerap sebagian besar permintaan aset aman.
“Dengan ketidakpastian yang tinggi, emas menyerap sebagian besar permintaan safe haven,” ujarnya.
Media Iran juga melaporkan pejabat senior Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyatakan Selat Hormuz ditutup dan memperingatkan akan menembaki kapal yang melintas. Penutupan jalur strategis tersebut berpotensi menghambat sekitar seperlima arus minyak global.
Potensi Menuju US$7.000
Tim Riset Kiwoom Sekuritas mencatat emas sempat naik 1%–2% ke kisaran US$5.339–US$5.353 per ons, bahkan menyentuh US$5.419. Secara year to date, harga emas telah naik hampir 25%.
Maybank Sekuritas memproyeksikan emas perlu menembus resistensi US$5.092 untuk mencetak rekor baru. Jika level tersebut terlewati, harga berpotensi menuju target pola segitiga naik di kisaran US$5.906.
Berdasarkan pendekatan Elliott Wave, emas dinilai telah menyelesaikan gelombang dua di area US$4.402 atau mendekati Fibonacci retracement 61,8% di US$4.467. Selanjutnya, emas diperkirakan memasuki gelombang tiga dengan potensi target di US$7.172.
Saham Emas Justru Melemah
Meski harga emas menguat, sejumlah saham emiten tambang emas justru terkoreksi pada perdagangan intraday pukul 11.04 WIB.
Berikut pergerakan saham sektor emas:
- PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) turun 3,47% ke Rp4.450
- PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) melemah 2,97% ke Rp980
- PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) turun 2,30% ke Rp8.500
- PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) turun 3,81% ke Rp3.790
- PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) melemah 3,76% ke Rp1.920
Koreksi saham terjadi di tengah aksi ambil untung investor meski tren harga emas global masih menunjukkan penguatan signifikan.
















