SUMBARKITA.ID — Anggota DPR RI Komisi X Lisda Hendrajoni mendukung implementasi kurikulum merdeka yang menjadi kebijakan Kemendikbudristek. Menurutnya, implementasi kurikulum merdeka belajar merupakan upaya menyesuaikan dengan tuntutan zaman dalam menyiapkan generasi masa depan bangsa Indonesia.
“Sebagaimana ungkapan pepatah bijak, ‘didiklah anak-anak mu sesuai dengan zamannya’. Karena itu kami mengapresiasi dan mendukung penuh implementasi program kurikulum merdeka sesuai dengan kebutuhan generasi sekarang,” ujar Lisda saat menghadiri kegiatan workshop pendidikan sosialisasi kurikulum merdeka bersama Kemendikbudristek di The ZHM Premiere Hotel Padang, Senin (7/8/2023).
Menurut Lisda, saat ini bagaimana kesiapan infrastruktur sarana prasarana penunjang dan kualitas sumber daya manusia (SDM) seperti tenaga guru yang harus mendapatkan perhatian. Pihaknya mengakui masih banyak terdapat keterbatasan yang dihadapi sekolah-sekolah dalam implementasi program kurikulum merdeka. Namun demikian, semangat pelaksanaan dari sekolah-sekolah harus diapresiasi.
“Ya, kami kaget juga, ternyata sudah mencapai 80 persen sekolah di Indonesia mulai dari tingkat SD hingga SLTA yang telah menerapkan kurikulum merdeka. Makanya kami tetap memotivasi para guru untuk terus berjuang dan belajar ke arah yang sebenarnya sesuai dengan tuntutan kurikulum merdeka,” katanya.
Hingga kini, penerapan kurikulum merdeka terus berproses. Lisda berharap para guru mesti tetap meningkatkan ilmu pengetahuan dan kecakapan agar dalam pelaksanaannya dapat berjalan sebagaimana mestinya.
Sementara itu, Plt Kepala Pusat Kurikulum dan Pembelajaran Badan Standar Kurikulum dan Asesmen Pendidikan (BKSAP) Kemendikbudristek, Zulfikri Anas menuturkan, keikhlasan guru memberi pelayanan pada peserta didik merupakan modal utama dalam implementasi kurikulum merdeka.
“Jadi, sasaran utama kurikulum merdeka adalah meningkatnya kualitas dan terjadinya transformasi dalam proses pembelajaran. Salah satu modal utamanya keikhlasan guru dalam pelayanan siswanya,” ujarnya.
Ia menjelaskan, prinsip kurikulum merdeka adalah untuk penyederhanaan dari sebelumnya yang dirasa padat materi dan kemudian rumit administrasinya. Kurikulum merdeka, kata dia, fokus pada materinya esensial dan administrasi menjadi lebih sederhana, dan terpenting tahu tujuan serta langkah-langkah pembelajaran, dan assessment, artinya dirancang untuk bisa diterapkan dalam situasi seminim mungkin.
Menurutnya, keberhasilan penerapan kurikulum merdeka, bukan pada kelengkapan dokumen-dokumen administrasi atau kepatuhan administrasi, tetapi lebih kepada terjadinya perubahan pembelajaran sehingga setiap anak didik tumbuh dan berkembang sesuai dengan fitrahnya masing-masing.
“Kurikulum merdeka fokusnya kepada anak didik dengan memberikan ruang seluas-luasnya kepada setiap siswa supaya dapat tumbuh dan berkembang sesuai dengan fitrahnya sehingga dapat merasakan makna pendidikan dan diharapkan tumbuh semangat mencintai pendidikan sepanjang hayat,” katanya.
Ia berharap, dalam kurikulum merdeka guru sangat penting melakukan assessment terhadap anak didik sejak awal, supaya bisa lebih mengenal tentang potensi diri yang ada pada peserta didik sehingga kebutuhan dapat terpenuhi sebagaimana yang diharapkan.
Kegiatan workshop sosialisasi kurikulum merdeka belajar dibuka oleh Anggota DPR RI Komisi X Lisda Hendrajoni, turut hadir Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Barat Barlius dan peserta terdiri atas tenaga pengajar, praktisi dan sejumlah elemen pemerhati pendidikan. ***















