Oleh: Muhibbullah Azfa Manik*
Rapat koordinasi di Balerung Lansek Manih, Sijunjung, pada awal Maret 2026 mungkin tampak seperti agenda rutin pemerintahan daerah. Namun, topik yang dibahas sesungguhnya jauh dari sekadar seremoni birokrasi. Pemerintah Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) menyatakan dukungan penuh agar Geopark Ranah Minang Silokek menjadi kandidat UNESCO Global Geopark. Hal itu merupakan ambisi yang, jika berhasil, akan mengangkat nama Sumbar ke panggung warisan dunia.
Pertanyaannya bukan lagi apakah Silokek indah. Lanskap karst berusia lebih dari 350 juta tahun, tebing batu kapur yang menjulang, aliran sungai yang membelah lembah, dan kekayaan hayati yang menyertainya sudah cukup menjadi bukti visual. Yang lebih penting ialah apakah geopark itu bisa menjadi motor kebangkitan ekonomi Sumbar, atau justru berhenti sebagai proyek mercusuar penuh euforia?
Struktur ekonomi Sumbar selama ini relatif konservatif. Pertanian, perdagangan, dan UMKM menjadi tulang punggung utama. Industri manufaktur berskala besar belum dominan. Investasi besar tak seagresif provinsi tetangga, seperti Riau atau Sumatera Utara. Pertumbuhan ekonomi memang stabil, tetapi tidak melompat.
Dalam situasi seperti itu daerah membutuhkan mesin pertumbuhan baru. Sektor pariwisata berbasis geopark menawarkan harapan itu. Namun, perlu ditegaskan sejak awal bahwa UNESCO Global Geopark bukanlah sekadar label wisata. Ia merupakan ekosistem pembangunan berbasis konservasi, edukasi, dan pemberdayaan masyarakat.
Jika dikelola dengan benar, geopark dapat menjadi katalisator ekonomi. Bukan mesin utama yang menggantikan sektor lain, melainkan pengungkit yang memperkuat rantai nilai lokal.
Banyak daerah yang terjebak dalam logika pariwisata instan. Destinasi dibangun untuk viralitas, bukan keberlanjutan. Geopark justru menuntut pendekatan sebaliknya. UNESCO mensyaratkan nilai ilmiah global, tata kelola profesional, serta keterlibatan masyarakat yang nyata.
Artinya, Silokek tidak cukup hanya menawarkan panorama. Ia harus memiliki dokumentasi riset geologi yang kuat, jejaring akademik internasional, serta sistem interpretasi edukatif bagi pengunjung. Wisatawan yang datang bukan hanya pemburu foto, tetapi juga pelajar, peneliti, dan wisatawan minat khusus.
Segmentasi itu penting. Wisata berbasis edukasi dan ekologi cenderung menghasilkan pengeluaran per pengunjung yang lebih tinggi dibandingkan dengan wisata massal. Dampaknya terhadap ekonomi lokal pun lebih berkualitas.















