Sumbarkita – Peringatan keras datang dari dunia neurosains. Generasi Z (Gen Z) disebut sebagai generasi pertama dalam sejarah modern yang menunjukkan penurunan kapasitas kognitif dibanding generasi sebelumnya, sebuah fenomena yang dinilai berkorelasi langsung dengan cara dunia mendesain sistem pendidikan berbasis teknologi.
Pernyataan ini disampaikan ahli saraf asal Amerika Serikat, Jared Cooney Horvath, dalam kesaksiannya di hadapan Komite Senat AS, sebagaimana dilaporkan media internasional WION. Ia menegaskan bahwa penurunan tersebut tidak bersifat anekdot, melainkan terkonfirmasi secara statistik lintas negara.
Menurut Horvath, indikator utama kecerdasan mulai dari rentang perhatian, memori jangka panjang, kemampuan membaca mendalam, numerasi, pemecahan masalah, hingga IQ agregat menunjukkan tren melemah pada Gen Z jika dibandingkan dengan generasi milenial.
Titik Balik 2010: Sekolah Lebih Lama, Otak Justru Lebih Lemah
Data yang dipaparkan menunjukkan sekitar tahun 2010 sebagai titik balik. Ironisnya, penurunan kognitif terjadi pada generasi yang menghabiskan waktu lebih lama di bangku sekolah dibanding generasi sebelumnya.
Horvath menilai persoalannya bukan pada durasi pendidikan, melainkan arsitektur pembelajaran. Sekolah modern, menurutnya, semakin mengandalkan EdTech: video singkat, ringkasan digital, aplikasi belajar instan, dan kini kecerdasan buatan.
Masalahnya, otak manusia tidak berevolusi untuk belajar secara fragmentaris.
Secara biologis, manusia belajar melalui atensi panjang, konflik kognitif, pengulangan, dan interaksi sosial langsung. Proses ini bertabrakan dengan logika teknologi digital yang serba cepat, instan, dan dangkal.
“Lebih dari setengah waktu remaja saat terjaga dihabiskan untuk menatap layar,” ujar Horvath, dikutip Kamis (5/2/2026).
Ketika pembelajaran direduksi menjadi potongan video pendek dan jawaban instan AI, yang hilang bukan sekadar pengetahuan, melainkan kemampuan berpikir kritis itu sendiri.















