Sumbarkita – Video gajah Sumatera bernama Zidan yang terlihat dirantai di Taman Marga Satwa dan Budaya Kinantan (TMSBK) Bukittinggi belakangan menjadi perhatian di media sosial. Potongan video tersebut memunculkan beragam tanggapan terkait kondisi gajah yang telah puluhan tahun berada di TMSBK itu.
Di tengah berbagai spekulasi yang berkembang, Pemerintah Kota Bukittinggi memberikan penjelasan mengenai kondisi Zidan sekaligus alasan di balik langkah pengamanan yang dilakukan terhadapnya.
Kepala Dinas Pariwisata Bukittinggi, Rofie Hendria, mengatakan Zidan telah berada di TMSBK selama kurang lebih 20 tahun. Dalam sebagian besar masa tersebut, Zidan disebut berperilaku normal dan dapat ditangani dengan baik oleh pawang maupun petugas.
“Zidan sudah kurang lebih 20 tahun di TMSBK. Selama beberapa tahun tersebut, Zidan berperilaku normal dan ditangani dengan baik oleh TMSBK,” kata Rofie, Minggu (13/9/2026).

Persoalan mulai muncul dalam beberapa tahun terakhir. Perilaku Zidan disebut mengalami perubahan dan menjadi semakin agresif.
Kondisi tersebut tidak hanya menyulitkan petugas dalam melakukan penanganan. Rofie mengatakan Zidan telah beberapa kali melukai pawang dan petugas lain. Gajah jantan tersebut juga beberapa kali melukai Lia, gajah betina yang berada di TMSBK.
“Zidan juga beberapa kali melukai gajah betina Lia dan itu dikhawatirkan akan menimbulkan dampak kepada Zidan sendiri, apalagi pengunjung,” ujarnya.
Perubahan perilaku itu kemudian membuat penanganan Zidan menjadi persoalan yang harus mendapat perhatian lebih serius. Bahkan, pawang yang selama ini menangani Zidan akhirnya mengundurkan diri karena merasa tidak lagi sanggup menghadapi kondisi gajah tersebut.

“Pawang yang lama menangani gajah Zidan sampai mengundurkan diri karena tidak sanggup menangani Zidan yang semakin agresif dan makin tidak terkendali,” kata Rofie.
Bukan Keputusan Sepihak
Kondisi tersebut selanjutnya dikoordinasikan dengan sejumlah pihak, termasuk pengelola TMSBK, BKSDA Sumatera Barat dan dokter hewan.
Dari proses koordinasi itu, pemasangan rantai dilakukan sebagai langkah pengamanan untuk membatasi pergerakan Zidan dan mencegah terjadinya kejadian yang dikhawatirkan.
“Karena kondisi seperti itu, akhirnya Zidan dipasang rantai untuk mencegah hal-hal yang ditakutkan tadi,” ujar Rofie.

Namun, langkah tersebut bukan dimaksudkan sebagai penyelesaian jangka panjang. Pemerintah Kota Bukittinggi justru telah mendorong agar Zidan dapat dipindahkan ke lembaga konservasi yang memiliki sarana dan prasarana lebih lengkap.
Rofie mengatakan kondisi Zidan telah dilaporkan kepada Kementerian Kehutanan melalui BKSDA Sumatera Barat. Persoalan tersebut juga telah disampaikan kepada tim ahli yang terlibat dalam proses sertifikasi TMSBK.
“Sudah dilaporkan kepada Kementerian Kehutanan melalui BKSDA, termasuk kepada tim ahli yang melaksanakan sertifikasi TMSBK, untuk dilaksanakan evakuasi terhadap Zidan ke lembaga konservasi yang lebih lengkap sarana prasarananya,” katanya.
Sudah Disampaikan Sejak Sebelum Video Beredar
Menurut Rofie, upaya mencari solusi terhadap kondisi Zidan juga telah dilakukan pemerintah daerah sebelum persoalan tersebut ramai di media sosial.

Pemko Bukittinggi disebut telah beberapa kali menyurati Kementerian Kehutanan melalui BKSDA Sumatera Barat mengenai kondisi Zidan dan meminta agar persoalan tersebut segera ditindaklanjuti.
Persoalan yang sama bahkan disampaikan langsung oleh Wali Kota Bukittinggi ketika Menteri Kehutanan berkunjung ke TMSBK pada 2025.
“Bapak Wali Kota sudah menyampaikan langsung kepada Menteri dan Dirjen. Bapak Dirjen secara lisan juga sudah menginstruksikan jajarannya untuk menyikapi kondisi tersebut,” ujar Rofie.
Dengan demikian, menurut Pemko, kondisi Zidan bukan persoalan yang baru muncul setelah video tersebut beredar. Penanganannya telah menjadi perhatian pemerintah daerah dan pihak terkait selama beberapa waktu.
Zidan Tetap Mendapat Perawatan
Di tengah sorotan terhadap kondisi Zidan, Rofie menegaskan bahwa TMSBK tetap memberikan perhatian terhadap kebutuhan gajah tersebut.

Perawatan, pemberian pakan dan pemantauan kesehatan tetap dilakukan. Pemasangan rantai, kata dia, merupakan konsekuensi dari kondisi perilaku Zidan yang dinilai semakin sulit dikendalikan dan pertimbangan keselamatan di lingkungan TMSBK.
“Yang paling penting, TMSBK selalu melaksanakan yang terbaik untuk Zidan, baik perawatan, makan, maupun perhatian terhadap kesehatan. Tapi kondisi seperti di atas yang menyebabkan Zidan dirantai,” kata Rofie.
Pemko Bukittinggi berharap persoalan tersebut dapat segera menemukan solusi yang lebih baik. Terutama melalui penanganan bersama dengan Kementerian Kehutanan, BKSDA, dokter hewan dan pihak terkait lainnya.
Evakuasi ke lembaga konservasi dengan fasilitas yang lebih lengkap menjadi salah satu opsi yang terus didorong pemerintah daerah.
Penjelasan tersebut sekaligus diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih utuh mengenai kondisi Zidan. Sebab, video yang beredar hanya memperlihatkan satu sisi dari persoalan yang telah berlangsung selama beberapa tahun.
Bagi TMSBK dan Pemko Bukittinggi, keselamatan pengunjung, petugas dan satwa tetap menjadi pertimbangan dalam setiap langkah penanganan. Pada saat yang sama, pemerintah daerah juga berharap Zidan dapat memperoleh tempat dan penanganan yang paling sesuai dengan kondisinya.














