LIMAPULUH KOTA, SUMBARKITA – Masyarakat dan pemerintah dari lima nagari di Kecamatan Payakumbuh dan Kecamatan Harau menandatangani petisi menolak pembangunan trase tol Payakumbuh-Pangkalan yang akan melewati wilayah mereka.
Ketua Forum Masyarakat Terdampak Tol (Format) Ezi Fitriana mengatakan penolakan masyarakat itu karena pembangunan trase itu akan melalui lahan-lahan produktif serta akan mengorbankan ratusan rumah warga.
“Menurut data yang kami miliki, terdapat 539 titik rumah dan bangunan yang akan hilang dengan perkiraan hampir 2.000 jiwa yang akan terdampak langsung,” kata Ezi, Rabu (31/8/2022).
Belum lagi, di lokasi pembangunan itu terdapat 50 ulayat kaum pasukuan yang akan hilang. Sehingga menyebabkan rusaknya tatanan masyarakat adat di lima nagari tersebut.
Selain itu dari aspek budaya, Ezi menyebut banyak sekali situs-situs budaya Minangkabau yang akan terdampak seperti tanah ulayat, rumah gadang, surau tuo, hingga pandam pakuburan.
Sementara dari sisi Ekonomi, jalan tol juga akan melewati lahan-lahan produktif masyarakat, yang saat ini dijadikan sebagai sawah dan perladangan cabai, manggis, singkong, durian, kelapa, jengkol, petai, serta pepaya.
“Artinya trase ini akan menghancurkan sendi-sendi sosial, ekonomi dan budaya, ruang hidup dan sumber-sumber penghidupan masyarakat. Hal tersebut membuat masyarakat bergerak dan menolak trase di lima nagari,” ucap Ezi.
Penandatanganan petisi penolakan ini dilakukan oleh ratusan masyarakat dan Wali Nagari Koto Tangah Simalanggang Hendra Dt. Bogah, Wali Nagari Koto Baru Simalanggang Rezky Yuanda Putra, Wali Nagari Taeh Baruah Indra Mulyadi, Wali Nagari Lubuak Batingkok Yon Elvi Dt. Pangulu Bosa, Wali Nagari Gurun Taslim Pratama Prawira, hingga perwakilan LSM.
Dalam kesempatan itu juga diramaikan dengan pembacaan orasi oleh ibu-ibu dari lima nagari yang menolak pembangunan trase tol.
“Kami minta jangan ambil ulayat kami, ke mana lagi anak cucu kami akan hidup, jangan bongkar makam kami, jangan gusur rumah tempat kami dibesarkan, sawah dan ladang tempat kami menabur harapan. Bukan ganti rugi yang kami minta, kami hanya ingin trase tol dialihkan,” ucap Ezi menyampaikan isi orasi masyarakat. (*)
Berita Terkait: Belah Permukiman Padat Penduduk, Masyarakat Limapuluh Kota Desak Pembangunan Trase Tol Dialihkan
Editor: RF Asril














