Sumbarkita — Suasana sepi menyelimuti Gedung Padang Theater lantai 2, Pasar Raya Padang, Rabu (10/12) siang. Lokasi ini dulunya menjadi pusat penjual buku bekas yang pada era 1990-an hingga 2000-an kerap disebut pasar loak oleh para pelajar. Kini, hanya beberapa toko yang masih bertahan.
Hambali (60), pemilik salah satu toko buku bekas, mengatakan kondisi sepi pembeli sudah menjadi hal biasa. Ia menilai perubahan zaman membuat masyarakat lebih memilih buku digital atau membeli buku fisik secara online.
Meski demikian, Hambali tetap berjualan karena merasa nyaman. Ia mengakui, menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman bukan hal mudah bagi usaha seperti miliknya.
Saat ini, sebagian besar pembeli berasal dari kalangan mahasiswa. Namun, Hambali menyayangkan banyak buku hanya dibeli untuk menyelesaikan tugas kuliah, bukan untuk menambah wawasan. Ia menambahkan, koleksinya banyak berisi buku asli dan langka, bahkan beberapa pembeli berasal dari luar negeri.
“Koleksi buku di toko ini beragam, mulai dari buku pelajaran, buku kuliah, hingga bacaan umum. Stok diperoleh dari pemilik buku yang tidak lagi menggunakan, seperti warga yang pindahan, hingga pekerja kantor,” katanya.
Hambali menyebut usaha buku bekas tersebut sudah berjalan sejak 1980-an, yang awalnya dikelola orang tuanya.
“Toko buku ini sudah ada sejak orang tua saya. Waktu itu, saya sekolah setengah hari dan setengah hari lagi membantu orang tua di sini,” ujarnya.
Ia mengatakan setelah tamat sekolah, dirinya merantau dan kemudian kembali ke Padang pada 2005 untuk melanjutkan usaha orang tuanya.













