Sumbarkita — Kepala BMKG Padang Panjang, Suaidi Ahadi, menyatakan hilal mustahil terlihat saat matahari terbenam pada 17 Februari 2026 karena posisi bulan masih berada di bawah ufuk. Parameter tersebut berdasarkan hasil perhitungan astronomi yang dilakukan BMKG.
Ia mengatakan, BMKG hanya memberikan parameter posisi benda langit, yakni posisi matahari dan bulan ketika matahari terbenam. Data itu menjadi rujukan dalam proses melihat hilal untuk menentukan masuknya bulan Ramadan.
“Yang sama-sama diketahui, untuk menentukan masuknya bulan Ramadan rujukan yang dijadikan adalah melihat hilal. Hal itu sudah ditentukan sejak dulu,” ujarnya.
Ia menjelaskan, konsep pergantian hari dalam Islam ditentukan saat terbenamnya matahari. Matahari terbenam terlebih dahulu, kemudian setelah itu bulan.
Berdasarkan hasil perhitungan BMKG, katanya, tinggi hilal di seluruh Indonesia berada pada posisi negatif pada 17 Februari 2026. Kondisi itu terjadi karena posisi bulan terbenam lebih dahulu dibandingkan matahari.
Ia mengatakan, ketika matahari terbenam di wilayah Indonesia, bulan belum memasuki fase baru. Konjungsi terjadi pada pukul 19.01.07 WIB, atau setelah matahari terbenam di seluruh Indonesia.
“Dengan kondisi tersebut hilal mustahil terlihat pada 17 Februari 2026. Posisinya masih berada di bawah ufuk dengan ketinggian antara minus 2,41 derajat hingga minus 0,93 derajat,” tuturnya.
Ia melanjutkan, pada 18 Februari 2026 tinggi bulan di seluruh Indonesia berada di atas 0 derajat. Ia menyebut, pada posisi tersebut bulan sudah bisa dilihat dengan kasat mata, dan hilal akan terlihat jelas.














